fbpx

Author: gemi

3 Anak Anggota GEMI Ikut Khitanan Massal

Pada hari Ahad, tanggal 25 Oktober 2015  PT. Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari dan LAZNAS BSM mengadakan khitanan massal yang diadakan di MTS Muhammadiyah Wonosari, Gunungkidul. GEMI Gunungkidul sebagai mitra PT. Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari mendapatkan kesempatan untuk mengirimkan anak anggota GEMI sebagai peserta, khususnya yang di area Gunungkidul. Walaupun di bulan Muharram, menurut mitos orang Jawa adalah pantangan untuk melaksanakan khitanan. Alhamdulillah dari anak anggota GEMI pada kesempatan ini ada 3 anak yang menjadi peserta yaitu Rangga Aditya Putra, Ibnu Nur Widiyanto, Noval Bima Saputra semuanya dari Kecamatan Karangmojo. Semoga khitanan Massal ini bisa meringankan beban ekonomi...

Read More

TEMU GENERASI BINTANG – Semangat Menggapai Cita

Sejak kecil kita tentunya sering mendapat pertanyaan, ”Kalau besar nanti, cita-citanya ingin jadi apa?” Mungkin sebagian akan menjawab ingin jadi dokter, pilot, guru, dan lain sebagainya. Lalu pernahkan terpikir di benak kita, apa cita-cita anak-anak bangsa yang mungkin hidupnya tak berpunya atau yang sudah ditinggal ayah atau ibunya, atau bahkan keduanya. Mungkinkah mimpi itu hanya akan berakhir menjadi bunga tidur dan lama-lama menjadi kabur sesaat setelah ia terbangun. Akankah pemandangan ini tak merisaukan hati-hati kita yang mungkin masih disibukkan dengan harta-harta dunia. Siang itu selepas sholat Jumat, Gemi Maal mengadakan pertemuan dengan para calon penerima donasi beastudi untuk yatim...

Read More

PENGOLAHAN KERIPIK PEGAGAN OLEH IBU-IBU LKP MAKMUR BERSAMA

Anda sudah pernah mengetahui tanaman pegagan? Tanaman liar yang biasa tumbuh di sawah dan daerah lembab ini ternyata bisa diolah menjadi cemilan yang enak dan menyehatkan. Pegagan atau Centella asiatica adalah tanaman tropis yang hidup merambat dan berbunga sepanjang tahun. Masyarakat mengenal tanaman ini dengan nama antanan atau daun kaki kuda. Terdapat empat jenis tanaman pegagan, yaitu: antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung, dan antanan air. Sejak zaman dulu, tanaman pegagan diketahui memiliki berbagai khasiat, diantaranya: melancarkan peredaran darah,  menurunkan tekanan darah, peluruh kencing, penurun panas, menghentikan pendaharan, meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, anti alergi, dan sebagainya. Daun pegagan bisa...

Read More

SISTEM MUDHOROBAH : SISTEM KERJASAMA PERMODALAN DALAM ISLAM

Istilah-istilah dalam ekonomi Islam bukanlah istilah dan maknanya dibuat sendiri tanpa ada contoh konkret dari Rasulullah. Pada zaman Rasulullah sudah ada sistem permodalan, sebagaimana pada masa sekarang. Perbedaannya terletak pada proses administrasi dan pencatatannya. Dalam sistem ekonomi Islam terkenal dengan istilah “Al Mudhorobah” atau dikenal dengan sistem bagi hasil. Al mudhorobah berasal dari kata adh dhorbu, dengan bentuk fi’il (kata kerja) dhoroba – yadhribu, yang berarti memukul. Kata ini berubah maknanya dalam kalimat adh dhorbu fil ardhi, berarti berjalan di muka bumi. Maksudnya adalah berjalan di muka bumi (bepergian) untuk membelanjakan dagangan. Pada waktu zaman Nabi sudah ada praktek dimana seseorang menyerahkan sebagian hartanya, untuk diperniagakan, dan hasilnya, dibagi antara keduanya. Ini lah yang disebut dengan qiroth, atau mudhorobah. Sistem bagi hasil dapat dilihat dari hubungan Nabi Muhammad dan Siti Khadijah sebelum mereka menikah. Siti Khadijah punya modal yang sangat banyak, tetapi kurang pandai berdagang. Sedangkan Rasulullah, tidak memliki modal tapi punya kepandaian dalam berdagang. Sehingga sistem mudhorobah ini, pada intinya menguntungkan bersama, karena; 1.      Punya skill (kemampuan) dan pengalaman tetapi tidak punya modal. 2.      Punya modal dimanauangnya ‘menganggur’ tetapi tidak memiliki skill (kemampuan) dan pengalaman dan tetapi juga menginginkan keuntungan. Contoh yang lebih konkret ketika pada zaman sahabat, mereka banyak yang menyerahkan harta anak yatim dalam bentuk mudhorobah. Sehingga waktu itu, sebenarnya sudah muncul kesadaran akan artinya perputaran uang untuk permodalan. Dalam suatu ayat al Qur’an terdapat kalimat...

Read More

DASAR HUKUM BAGI WADI’AH

         A.     Kisah Nabi Muhammad Saw Gelar “Al Amiin” yang disematkan oleh kaum Quraisy kepada diri Rasulullah, bukan karena sebab dari satu perkara, yaitu masalah pengangkatan hajar aswad ke ka’bah setelah kota Mekkah dilanda banjir sebelum masa kerasulan. Istilah ini dinisbahkan kepada sifat Rasulullah yang dikenal oleh orang Quraisy, sebagai orang yang benar-benar dapat dipercaya. Sehingga, banyak dari orang Quraisy menitipkan barang kepada rasulullah, dan ketika kembali, mendapatkan barang mereka secara utuh sama sekali. Bahkan tradisi menitipkan barang dan dipercayakan kepada rasul ini pun berlanjut hingga pada masa kerasulan. Meski mereka sangat membenci rasul karena menyatakan diri sebagai Nabi dan menentang berhala sesembahan mereka, tetapi mereka tak dapat memungkiri sifat amanah pada diri rasulullah. Rasulullah tak memakan barang ini walau dalam keadaan diboikot sekalipun. Sebelum hijrah, Rasulullah baru mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya, lewat sayyidina Ali. Di tengah nyawanya terancam, rasulullah masih memikirkan bagaimana mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.  Kebiasaan rasulullah dalam merawat barang titipan ini lah yang di-sistem-kan dalam aktivitas perbankan islam dengan nama ‘wadi’ah’. (Barang Titipan). Selama rasulullah merawat barang tersebut, rasulullah tak memakai barang tersebut, berusaha merawatnya agar tidak rusak. Ini lah yang jadi dasar hokum bagi wadiah yad amanah, yang artinya tangan amanah, karena diberi amanat merawat barang titipan tanpa memakai barang tersebut, dan mencegahnya dari kerusakan.           B.      Kisah Sahabat Zubair Ibn Awwam Ada pula sepenggal...

Read More