”Sampah Jadi Berkah!”

”Sampah Jadi Berkah!”

Setiap hari kita menghasilkan sampah yang jumlahnya ratusan ton. Sampah-sampah tersebut di buang begitu saja tanpa dipilah. Padahal beberapa sampah masih bisa di daur ulang. Selain itu kebiasan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan di jalan dan sungai, terkadang sampah tersebut juga dibakar. Padahal membakar sampah berbahaya bagi pernafasan. Apalagi jika yang dibakar adalah sampah plastik, asap pembakarnya lebih bahaya ketimbang menghisap asap rokok dan juga bisa merusak kesuburan tanah.

Jika hal ini terus terjadi maka bumi kita akan semakin tercemar dan lingkungan menjadi tidak sehat lagi. Dampak ini akan semakin meluas hingga anak dan cucu kita yang harus menanggung akibat kelalaian kita mengelola sampah.

Melihat kondisi lingkungan yang memprihatinkan, Gemi Maal bersinergi bersama ibu-ibu anggota Rembug Minggon Koperasi Syariah Gemi mengadakan program Bank Sampah. Apa itu Bank Sampah? Bank Sampah adalah suatu bentuk pengelolaan sampah anorganik yang dipilah sesuai kategori tertentu yang memiliki nilai jual dengan menggunakan sistem perbankan.

Anggota koperasi Syariah Gemi sebagian tinggal di wilayah pedesan. Edukasi mengenai pengelolaan sampah masih sangat rendah. Sebagian besar masyarakat masih membakar sampah, entah sampah organik maupun anorganik. Padahal hal ini bisa menimbulkan masalah yang besar. Untuk itu kami punya slogan ”Sampah Jadi Berkah”. Sampah itu punya nilai jika kita mampu mengelolanya dengan benar.

Setiap bulannya ibu-ibu bisa menyetorkan sampah yang sudah dipilah, kemudian di timbang dan akan di catat dalam buku tabungan. Sampah-sampah anorganik yang memiliki nilai jual sangat banyak dan beragam, seperti plastik, kertas, kaleng, besi, dan lain sebagainya. Saat ini Gemi Maal menginisiasi Bank Sampah di Wilayah Nglipar Gunungkidul, Sewon Bantul, dan Lendah Kulonprogo. Setiap bulan ibu-ibu sudah rutin menimbang/ setor sampah kemudian di catat dalam buku tabungan. Tabungan tersebut di ambil setahun sekali atau sesuai kesepakatan. Harapannya Bank Sampah ini bisa menjadi upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat dan asri.  Selain itu juga bisa berkembang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

-Rizky-

Pelatihan Kerajinan Tas Anyaman Pandan

Pelatihan Kerajinan Tas Anyaman Pandan

Anda tentu pernah melihat hasil kreasi anyaman pandan berupa tas, dompet, tikar, dan lain-lain. Tahukah Anda bahwa tas tersebut terbuat dari pandan berduri? Pandan duri (Pandanus tectorius) sebenarnya tumbuh subur di daerah pantai dan pegunungan berkapur seperti Gunungkidul. Akan tetapi, masih sedikit pengrajin yang mengembangkan kerajinan tersebut.

Melalui fasilitator Koperasi GEMI, kami mendapat informasi bahwa di daerah Kedung Poh Lor, Nglipar, Gunungkidul terdapat pengrajin tikar mendong. Mendong (Fimbristylis umbellaris), yang memiliki nama lain purun tikus, merupakan rumput yang hidup di rawa. Setelah kami survey ke sana, ternyata ibu-ibu di sana hanya menganyam mendong tanpa mengetahui proses pengolahan mendong tersebut dari bahan mentah hingga siap dipasarkan.

Mereka mendapat bahan tersebut dari ’juragan’ dan nantinya hasil pengolahan juga akan dipasarkan oleh ’juragan’ tersebut. Akhirnya, ibu-ibu pengrajin hanya mendapat upah yang minim. Selain itu, kreativitas mereka juga tidak bertambah karena mereka hanya membuat produk sesuai permintaan ’juragan’. Padahal, mendong sendiri dapat dikreasikan ke berbagai bentuk produk, seperti: tas, sandal, dompet, tempat tissue, dan lain sebagainya. Namun, di pasaran, kreasi mendong kalah dengan kreasi pandan yang lebih bagus secara pewarnaan dan bahan. Anyaman mendong memang cenderung lebih lemas daripada anyaman pandan yang kaku. Selain itu, anyaman mendong berwarna lebih kusam sehingga kurang diminati. Dengan berbagai alasan tersebut, kami mencoba mengalihkan anyaman mendong yang telah biasa dilakukan oleh ibu-ibu di sana, ke anyaman pandan yang lebih banyak peminatnya.

pelatihan tas pandan
Di awal pelatihan, kami mencoba memberi gambaran kepada ibu-ibu yang biasa menghias anyaman mendong tentang produk anyaman pandan. Kami menunjukkan tas-tas dan dompet anyaman pandan yang sudah jadi, namun masih polos dan hanya di-bleaching (proses pemutihan dengan zat kimia). Kemudian kami bersama-sama menghiasnya dengan kain perca, manik-manik, dan juga bunga-bunga dari kain.Dari berbagai kerajinan anyaman pandan ini, yang paling laku di pasaran adalah clutch. Clutch merupaka tas yang digenggam dan biasanya digunakan saat pesta atau acara-acara formal. Harga clutch di pasaran dimulai denga harga Rp 50.000 untuk yang polos atau hanya diberi satu warna. Bila clutch sudah dihias, harganya bisa menjadi dua hingga empat kali lipat tergantung seberapa bagus hiasan dan bahan hiasannya.

Di pelatihan berikutnya, kami mencoba memberi warna ke pandan yang sudah dianyam. Kemudian ibu-ibu dilatih untuk mencoba membuat pola clutch. Ternyata beberapa ibu-ibu masih kesulitan untuk mengikuti. Meskipun demikian, ibu-ibu tetap antusias untuk menghias clutch anyaman pandan yang sudah jadi. Mereka pun menghias secara berkelompok.

Walaupun masih belum rapi, pandan yang biasa-biasa saja bisa terlihat lebih cantik dan elegan. Ke depan, kami berencana untuk melakukan studi banding ke rumah bapak Sutaryono. Beliau merupakan salah satu pengrajin anyaman pandan yang sudah sukses di daerah Pandak, Bantul. Beliau mengembangkan usahanya sudah lebih dari sepuluh tahun dan hasil produksinya sudah dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia.
pelatihan tas pandan
Harapan kami, ibu-ibu di daerah Nglipar bisa juga mencoba peluang usaha ini untuk menambah kesejahteraan ibu-ibu di sekitar daerah tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga menambah skill ibu-ibu yang sudah bisa menganyam mendong sebelumnya dengan kemampuan menganyam pandan yang pasarnya lebih potensial.

TEMU GENERASI BINTANG – Semangat Menggapai Cita

TEMU GENERASI BINTANG – Semangat Menggapai Cita

Sejak kecil kita tentunya sering mendapat pertanyaan, ”Kalau besar nanti, cita-citanya ingin jadi apa?” Mungkin sebagian akan menjawab ingin jadi dokter, pilot, guru, dan lain sebagainya. Lalu pernahkan terpikir di benak kita, apa cita-cita anak-anak bangsa yang mungkin hidupnya tak berpunya atau yang sudah ditinggal ayah atau ibunya, atau bahkan keduanya. Mungkinkah mimpi itu hanya akan berakhir menjadi bunga tidur dan lama-lama menjadi kabur sesaat setelah ia terbangun. Akankah pemandangan ini tak merisaukan hati-hati kita yang mungkin masih disibukkan dengan harta-harta dunia.
Siang itu selepas sholat Jumat, Gemi Maal mengadakan pertemuan dengan para calon penerima donasi beastudi untuk yatim dalam Program Gerakan Orang Tua Asuh Generasi Bintang. Acara tersebut diadakan di kantor Kopsyah (Kopersi Syariah) Gemi cabang Gunungkidul. Dalam pertemuan kali ini, kami mengadakan interview dengan para wali anak yatim dan juga melengkapi berkas-berkas terkait anak yatim calon penerima beastudi. Dalam pertemuan wali tersebut kami mampu mengetahui kondisi anak yatim dan keluarga wali secara langsung.

pertemuan wali orang tua asuh

Sementara itu, para anak calon penerima donasi beastudi Generasi Bintang dikumpulkan di ruang terpisah. Dalam forum ini kami mencoba mengeksplor dan memotivasi belajar anak-anak tersebut. Selain itu, kami juga menggali apa sebenarnya cita-cita anak-anak setelah dewasa nanti. Beberapa anak menjawab dengan percaya diri. Namun sebagian besar masih malu-malu dan tak yakin dengan cita-citanya. Kami pun mencoba memotivasi anak untuk terus bersekolah dan menuliskan cita-cita mereka agar dapat menjadi motivasi mereka saat semangat turun atau malas belajar. Pertama-tama mereka masih sulit untuk mengungkapkannya ke dalam tulisan. Namun akhirnya mereka pun bisa menuliskan hingga menggambarkannya. Acara diakhiri dengan penyerahan tabungan dan beastudi tunai kepada anak dan walinya.
whatsapp-image-2016-09-22-at-12-07-51
Selepas acara, Tim Gemi Maal berkumpul sejenak untuk evaluasi. Dalam obrolan itu, kami menyadari berbagai hal. Pertama, melalui interview dengan wali, kami menyadari bahwa kondisi anak-anak memang cukup memprihatinkan. Hal ini diperkuat saat di forum banyak anak yang sulit mengungkapkan cita-citanya. Secara psikologis, anak-anak memang terguncang dan kurang mendapatkan perhatian. Kedua, perlu adanya pendampingan psikolog untuk memberi motivasi anak yang lebih intens untuk terus belajar meskipun dalam keterbatasan.
Ke depannya, Gemi Maal punya harapan besar agar kelak para generasi bintang tak takut untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun dalam berbagai kondisi. Tentunya hal ini tidaklah mudah. Untuk itu, kami mengajak bapak, ibu, dan saudara sekalian untuk ikut peduli dengan pendidikan putra-putri generasi bintang dan bergabung menjadi bagian dari gerakan kami 🙂
PENGALAMAN STAFF PENGGERAK GEMI DI LAPANGAN : IV

PENGALAMAN STAFF PENGGERAK GEMI DI LAPANGAN : IV


 

By; Syamsul Rodhi
 
Naik kendaraan dimusim hujan bukan sesuatu yang   menyenangkan, apalagi kita berlomba dengan dengan  waktu  dari rebug satu kerembug yang lainnya.

Yang saya ceritakan disini ,Adalah kisah di hari kamis di musim hujan, dimana saya harus mendampingi  rembug dengan wilayah 3 kecamatan, dimulai dari Rembug  pertama yaitu Gemi  Sejahtera  yang terletak di Ngagel, Karangmojo yang hadir hanya 3 orang karena anggotanya hanya tersisa 5 orang saja, cuaca masih aman saya melanjutkan kerembug kedua yaitu  Teratai  Indah yang belokasi di susukan IV Pojong dan alhamdulillah lancar dirembug ini tapi cuaca sudah mulai terlihat mendung. Wajar ini musim hujan.

Dirembug ketiga Lancar Usahaagak lama nunggu maklum rembug ini biasanya yang ditunggu-tunggu ketua rembug nya yaitu bu Puji asal hadir lebih awal maka cepatlah selesai. Suasana bertambah gelap mendung sudah mulai tanda-tanda hujan deras akan turun, buru-burulah saya meluncur kerembug ke empat yaitu Lestari Widodo masih dalam kecamatan Karangmojo Sebelum sampai ke lokasi saya menyempatkan diri sholat dhuhur singgah dimasjid. Sambil melepas lelah harap maklum belum ada jam istirahat yang jelas ini di lapangan, perlu pandai-pandai mengatur waktu.

Sampailah dirembug Lestari Widodo ibu-ibu sudah sebagian pada kumpul, sambil menunggu ane meneruskan transaksi, ketika sudah kumpul, di tengah-tengah acara ibu—ibu langsung bubar lari meninggalkan rembug karena ada kiriman petir yang bergemuruh disertai angin yang kencang. Sebagian besar langsung ijin pulang karena tidak sempat bawa payung, sekalian menyelamatkan jemuran yang belum terambil. Tinggalah saya sendiri melanjutkan traksaksi yang belum terselesaikan ditemani mbah Jum, tuan rumah sedang ibu-ibu yang lainnya sudah bubar.
 
Hujan ditunggu belum juga reda angin terlihat tambah kecang sambil ditemani teh panas buatan mbah Jum. Ditunggu-tunggu tidak juga reda akhirnya  terpaksa melanjutkan perjalanan kerembug terakhir yaitu Ngudi Raharjo. Hujan begitu deras dan angin sangat kencang menghalangi perjalanan yang disertai banjir. Dalam pikiranku wah ini bisa bahaya kalau dilanjutkan”, takut kejatuhan pohon akhirnya saya berhenti sejenak disebuah masjid  sambil telpon ketua rembugnya “mohon maaf bu, saya datang agak terlambat karena di sini hujan deras”. Karena hujan tidak berhenti,  terpaksa harus lanjut terus.

Sampailah ke rembug terakhir,Rembug Ngudi Raharjo yang belokasi di selang V Wonosari, sambil mengucapkan salam agak keras “Assalamu’alaikum” , ternyata tak ada orang “wah, ternyata rembugnya podho bubarpikir saya. Tiba-tiba tuan rumah muncul ee maaf mas, Gemi ne pindah rumah sebelah maklum rumah pada bocor.”. Ooo geh bu” sambil menuju rumah sebelah ternyata ibu-ibu masih kumpul menunggu kedatangan ane.

Sambil basa basi dan minta maaf datang terlambat karena ujan deras, akhirnya saya duduk di tikar yang disediakan untuk membuka acara dan melajutkan transaksi simpan pijamnya,  ketika ditengah transaksi tiba-tiba hujan deras tambah petir  bergememuruh ibu-ibu langsung lari ke tepi dinding sementara saya ditinggal sendiri. Kasihan deh, kebetulan listrik pun mati ditambah genteng pada bocor. Akhirnya terpaksa mencatat sambil berdiri tikar pada basah, suasana gelap dan berpindah-pindah sambil cari cahaya. Alhamdulillah selesai juga pekerjaanku diakhir cerita saya pamit dan pulang ke kantor. Da aaaaa

Inilah sepenggal kisah yaang saya alami diawal saya masa-masa training menjadi fasilitator digemi ternyata banyak suka dukanya, semoga kisah ini bisa bermanfaat.  jazakumullah
 


Edited By : Akhmad Arifin
PENGALAMAN STAFF PENGGERAK GEMI DI LAPANGAN : III

PENGALAMAN STAFF PENGGERAK GEMI DI LAPANGAN : III

 
 
 
By: Agustina Wulandari
 
Menjadi single parents sebenarnya bukanlah pilihan semua orang tua.Namun terkadang Alloh Alloh tak memberi kesempatan kita untuk memilih. Alloh selalu memberikan kejutan-kejutan dalam hidup yang terkadang kita anggap tidak kita inginkan padahal sesungguhnya Dia telah memilihkan segala hal yang terbaik.
 
Pelajaran itulah yang ku dapatkan siang ini.Segera ku bereskan kertas kerja dan peralatan yang lain sebelum akhirnya aku mengakhiri pertemuan minggon di rumah salah seorang anggota rembug yang sebenarnya lebih pantas ku sebut tempat parkir.Betapa tidak,rumah yang berukuran 4×6 dan dihuni dua keluarga itu di halamanya terjajar motor buruh pabrik ayam yang terletak tepat di depan rumahnya.jika kita tidak tahan dengan bau yang tidak sedap,dijamin akan menutup hidung saat berada di rumah itu.
 
Ku salami ibu-ibu di depanku dan ku pandang wajah-wajah itu lekat sebelum aku melangkahkan kaki.Betapa terpancar ke iklasan pada wajah-wajah mereka siang itu dan siang-siang sebelunnya.Mereka telah mengiklaskan sebagian rizkinya untuk membayar tanggungan salah seorang anggota yang terpaksa harus diselesaikan oleh kelompok.
 
Ketika aku bertanya “angsuran bu Erni sampun dipon titipaken bu….?” salah seorang anggota kelompok menjawab “niku ditanggung renteng mbak,sedanten anggota nderek nanggung”,jleegg……seketika itu aku tercengang dengan keiklasan mereka menanggung beban saudaranya ditengah keterbatasan yang mereka alami…..”lha pripon meleh mbak nek ditari sedanten nggeh mboten puron” lanjut salah satu ibu anggota rembug.
 
Dari cerita mereka baru aku ketahui bahwa bu Erni saat ini tidak berada di rumah.Dia terpaksa mengurusi anak-anak dan mencari nafkah sendiri karena ditinggal pergi oleh suaminya dengan wanita lain.Akhirnya seluruh tanggungannya di masyarakat harus di selesaikan oleh saudara dan para tetangga.
 
Ku hidupkan mesin motorku sambil tak henti-hentinya aku bersyukur “ya Alloh ….terima kasih engkau telah memberiku keluarga yang utuh”.Semoga aku tak pernah lupa bersyukur sehingga Alloh akan menambah nikmat-Nya.Amin……….
GEMI SEBAGAI REPLIKASI SISTEM GRAMEEN BANK

GEMI SEBAGAI REPLIKASI SISTEM GRAMEEN BANK

Berawal dari pengalaman seorang yang bernama Muhammad Yunus. ketika kuliah di Amerika serikat Ia kuliah di Universitas Chittagong, sebuah kampus yang letaknya terpencil dan dekat dengan pemukiman kumuh. Waktu itu ia melihat musibah kelaparan melanda pemukiman dekat kampusnya. Apalagi, ilmu yang digelutinya adalah ilmu ekonomi. Sangat kontras, di sebuah kampus banyak mahasiswa mempelajari tentang teori-teori pembangunan ekonomi, tetapi di dekatnya terdapat bencana kelaparan. Hal yang sama juga bisa terjadi di mana saja, baik itu di Bangladesh, asal seorang Muhammad Yunus, maupun di Negara kita, Indonesia. Sebuah kampus yang concern di bidang ilmu Pembangunan dan Ekonomi, terletak di sebuah populasi penduduk miskin.
Muhammad Yunus mendapatkan inspirasi mendidikan Grameen Bank dari seorang pedagang kecil. Seorang pedagang kecil yang harus banting tulan untuk menganyam bamboo, tetapi margin keuntungan tak sebesar hasil usahanya. Muhammad Yunus lalu mengambil inisiatif untuk meminjamkannya modal kerja yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha pedagang kecil tersebut, agar tak terbebani dengan pasokan bahan bambu dimana harganya sudah ditetapkan oleh makelar.
Muhammad Yunus menyadari bahwa tak hanya satu pedagang yang mengalami kejadian serupa, tetapi banyak yang bernasib sama. Kemudian ia memberikan modal sebanyak 42, dimana mereka rata-rata sebagai pedagang kecil. Muhammad Yunus sering memantau bagaimana para pedagang tersebut menggunakan modal pinjamannya untuk mengelola usahanya, agar modal yang mereka dapat dikembalikan. Ternyata tingkat pengembalian hutang mereka rata-rata tepat waktu, bahkan banyak dari mereka yang mengajukan kredit tambahan lagi untuk mengembangkan usahanya. Ini lah yang jadi cikal bakal gerakan grameen bank. Sebuah bank yang diperuntukkan kepada kelompok usaha tak mampu, agar berdaya dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.
Sasaran bidik Grameen Bank ini sebelumnya tak pernah satu pun dilirik oleh bank-bank konvensional (lembaga keuangan kredit pada umumnya). Mereka lebih memilih untuk meminjamkan modal pinjaman kepada usaha besar yang mempunyai laporan keuangan, dan punya jaminan atas pinjaman. Yang dibutuhkan oleh bank adalah sebuah kepastian, sehingga jika terjadi kredit macet, bank berhak mengambil jaminan. Adanya agunan dan laporan keuangan ini lah yang tidak memungkinkan usaha kecil yang dikelola ibu-ibu untuk meminjam uang di bank konvensional. Padahal mereka juga membutuhkan modal juga, untuk mengembangkan usahanya.
Ketiadaan bank untuk kredit kecil, atau sekarang dikenal dengan ‘microfinance’, menyebabkan munculnya rentenir di wilayah-wilayah miskin. Mereka meminjamkan uang, dengan bunga sangat tinggi, bahkan sampai 10% per minggu. Patokan ini dibuat oleh rentenir, karena mereka membutuhkan profit nyata yang dapat dilihat dengan cepat dengan pembukuan sederhana. Mereka tinggal mendatangi para “nasabah”nya tiap minggu, sehingga mereka memiliki keuntungan 40% dari modal awal pinjaman mereka. Tidak dapat dibayangkan jika dengan uang 10 juta, misalnya, mereka mendapatkan pengembalian bersih sekitar 4 juta rupiah. Mekanisme kredit ini terjadi sejak masa dahulu, dulu dalam system kredit zaman jahiliyah dikenal dengan nama riba ‘adh-‘afan mudho’afah (membungakan uang dengan cara berlipat ganda hingga menjerumuskan orang miskin, kepada lembah kemiskinan lagi.
Keberhasilan Muhammad Yunus mengembangkan system perkreditan kecil kepada beberapa orang, membuatnya semakin percaya diri untuk mengembangkan system ini lebih besar. Maka ia mengajak para mahasiswanya untuk “magang” di sebuah desa untuk belajar langsung tentang kemiskinan. Kemudian berkembang lagi, hingga menyebabkan mengubah cara pandang perbankan sebelumnya yang masih menutup rapat-rapat dari permodalan usaha kecil.
Mindset yang berkemabng dalam perbankan pada umumnya adalah orang miskin malas bekerja, tidak dapat mengukur labanya, tidak dapat mengkalkulasi dan memanaje keuangan, sehingga mereka diragukan kemampuannya untuk mengembalikan modal tepat waktu. Dari sini , kemudian berkembang ratusan lembaga kredit mikro, tidak hanay di Bangladesh, melainkan di Negara-negara lain, termasuk Negara Indonesia. Mereka banyak mereplikasi dari system perbankan yang diterapkan oleh Muhammad Yunus, kemudian diterapkan di lingkungan mereka. GEMI adalah salah satu lembaga keuangan mikro, yang mereplikasi system Grameen Bank.
Hal ini dapat dilihat dari para nasabah GEMI yang rata-rata adalah kaum pedagang kelas menengah ke bawah. Mereka pada umumnya juga kurang memiliki akses ke lembaga kredit , semacam Bank KOnvensional. Karena perbankan masih menerapkan administrasi yang njlimet, dengan kantor yang terkesan ‘wah’ sehingga masih dirasa menjaga jarak dengan para pengusaha kecil.
GEMI juga mempunyai misi kemanusiaan yaitu mengentaskan kemiskinan dengan cara memberikan bantuan modal kepada pengusaha kecil, dan sebagai bagian dari perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia. Karena dalam salah satu butir Hak Asasi Manusia didalamnya tercakup pernyataan bahwa semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pemodalan untuk usaha. Nilai pemberdayaan ini lah yang harus tetap dijaga. Untuk itu, para calon nasabah ketika mengajukan pinjaman, harus lah seorang yang memiliki usaha untuk dikembangkan, tidak diperkenankan modal pinjaman GEMI digunakan untuk aktivitas non produktif.

Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat



Sebuah pesan dari sebuah ayat: “Laa yughoyyirullahu biqoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim”, Allah tidak lah merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubah apa-apa yang ada dalam dirinya. Pesan dari ayat ini mengisyaratkan tentang inti dari sebuah perubahan, yaitu dimulai dari menggerakkan apa-apa yang jadi potensi diri kita. Ini lah yang disbeut dengan “Pemberdayaan” atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah “Empowering”.

Dalam kegiatan Empowering, elemen utama dalam pemberdayaan adalah masyarakat itu sendiri, bukan fasilitator. Tugas fasilitator hanya lah sebagai pendorong, agar semua bakat dan potensi yang ada pada diri masyarakat muncul. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan bisa dikatakan berhasil jika, masyarakat berinisiatif melakukan kegiatan, baik kegiatan social atau kegiatan usaha, untuk memperbaiki situasi dan kondisinya sendiri.

Kegiatan Pemberdayaan Sosial, membutuhkan stimulasi. Stimulasi bisa berupa pelatihan maupun modal. Dengan pelatihan, masyarakat memperoleh pengetahuan hendak kemana mereka melangkah, dan bagaimana prosesnya. Sedangkan dengan modal, mereka dapat bergerak melakukan perubahan dengan kemampuan finansial yang mereka miliki.

Banyak terjadi kekeliruan pemahaman, bahwa proses pemberdayaan adalah proses pemberian hibah. Dalam metode pemberian hibah, tak banyak perubahan yang terjadi. Masyarakat relatif terjadi perubahan jika diberikan dana pinjaman. Seperti dalam pemberdayaan masyarakat kecil di Bangladesh oleh Grameen Bank yang diinisiasi oleh Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian.

Hal ini terjadi Karena dengan dana pinjaman, mereka dapat bertanggungjawab, punya inisiatif, dan punya motivasi untuk mengembalikan jumlah pinjaman yang mereka terima. Beberapa bantuan dana modal berupa hibah dari pemerintahan, banyak yang mengalami kegagalan. 

Ros Laundry Ternyata Bukan Sekedar Laundry Biasa

Ada banyak hal-hal unik yang biasa ditemukan di lapangan. Anggota Koperasi GEMI pada umumnya adalah ibu-ibu kelas menengah ke bawah. Tetapi tahu tidak ada seorang ibu usahawan yang punya beberapa pegawai tetapi masih pinjam uangnya di Koperasi untuk ngembangin usahanya?
Namanya Ibu Rustinah yang menjadi anggota GEMI sejak tahun 2007. Sejak usahanya berkembang, ia menaikkan angka pinjamannya. Kini, tak hanya laundry, tetapi juga mencakup usaha penjualan Tabung Gas dan Galon. Ia menamakan tempat usahanya dengan “Ros Laundry”. Kemungkinan usahanya berhasil karena letak tempatnya di pinggir jalan, dan relatif dekat dengan ibukota Kabupaten Gunungkidul, Wonosari.
Menurut Ibu Rustinah, usahanya kini sebenarnya dapat berkembang lebih maju lagi. Ia dapat melakukan “ekspansi” ke tempat lain misalnya. Tetapi, hal yang paling sulit menurutnya adalah mencari orang yang dapat dipercaya untuk mengembangkan bisnisnya. Karena menurutnya, mencari karyawan yang handal dan dapat dipercaya itu sangat lah sulit. Modal yang didapat dari GEMI untuk mengembangkan usahanya, menurutnya ‘nanggung’, karena ia lebih modal yang lebih besar lagi untuk mengembangkan usahanya.
Usaha Laundry ibu Rus relatif punya kendala yang kecil dibandingkan dengan jenis usaha anggota GEMI lainnya, jika ada kendala, kendalanya saat ini adalah belum adanya alat pengering, yang menurutnya adalah sebuah alat yang relatif mahal. Jika tidak ada alat pengering, maka jika musim hujan datang, maka akan repot, karena pengeringan dilakukan secara ‘alami’.

Dari hasil usaha ‘Ros Laundry’ ini, ia mendapatkan penghasilan bersih lebih dari 200 ribu per hari, dan mampu menyumbang sekitar 40% dari seluruh ekonomi keluarganya. Keadaan ekonominya sangat membaik, karena pemasukan sebesar dua kali lipat dari kebutuhan keseharian keluarga, yang “hanya” di atas 100.000 per hari.

BELAJAR DARI KELOMPOK WANITA TANI ‘BERKAH REZEKI” – WILADEG – GUNUNGKIDUL

Lahan yang dipakai secara Bersama-sama oleh Kelompok Wanita Tani “Berkah Rezeki”
Kelompok Wanita Tani (KWT)  “Berkah Rezeki” mulai berdiri sejak tahun 2010. Sebelum berdiri sudah berdiri KWT tetapi di tingkat perdukuhan. Sedangkan berkah rezeki, hanya tingkat tetangga dekat atau setingkat RT, dengan ketua Ibu Siti Marjimah. 
Nama “Berkah Rezeki” sendiri adalah nama rembug kelompok GEMI di wilayah mereka. Karena sebagian besar dari mereka adalah para ibu anggota Gemi, maka daripada mencari nama baru, bagi perkumpulan orang yang sama, maka diambil lah nama yang sama pula, yaitu “Berkah Rezeki”.
Kelompok Wanita Tani, secara kumpulan orang sudah ada, kemudian disolidkan dengan hadirnya GEMI, kemudian menjadi KWT “Berkah Rezeki”. Perencanaan dan Sosialisasi KWT sejak tahun 2010, tetapi baru berjalan setelah menerima bantuan sosial pada tahun 2012.
Anggota KWT “Berkah Rezeki” sendiri fluktuasi. Ketika masa awal berdiri, kelompok ini, berjumlah kira-kira 10-an orang, tetapi seiring perkembangan waktu, melonjak jadi 20 orang. Tetapi dalam satu tahun terakhir, menurun lagi hingga berjumlah kira-kira 10 orang.
Kegiatan yang dilakukan oleh KWT “Berkah Rezeki” adalah melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman sayuran. Kelompok membeli bibit, kemudian ditanam menjadi benih, kemudian beihnya dijual ke pasaran. Hasil dari penjualan, tidak masuk ke kantong pribadi para anggota KWT, tetapi masuk ke kas KWT. Dari kas KWT kemudian diputar untuk pemodalan para anggotanya;
Pembelian Benih >>> Penanaman Benih >> Penjualan Benih >> Kas KWT >> Simpan Pinjam

Benih tanaman sayuran yang digunakan oleh KWT “Berkah Rezeki”

Dari sini, maka ada sumber pemodalan KWT Berkah Rezeki, yaitu sumber pemodalan dari diri mereka sendiri, dan sumber pemodalan dari Koperasi GEMI.
Penghasilan bersih dari kegiatan produktif ini, tidak lah seberapa, karena hanya menghasilkan sekitar Rp. 150.000,00 per bulan, itu saja hanya ditanam pas musimnya. Lahan yang dipakai oleh KWT “Berkah Rezeki” sendiri adalah hasil pinjaman dari lahan yang tidak terpakai, milik salah satu anggota KWT. Yang menyediakan lahan buat kelompok, tanpa dipungut bayaran (tidak sewa).
Selain kegiatan pembibitan, kelompok ini sebenarnya membagi-bagikan ayam kampong, sejumlah 5 ekor pada tiap anggotanya. Diharapkan dengan diberikan 5 ekor tersebut dapat berkembang menjadi banyak. Tetapi, ada beberapa anggota yang bisa mengembangkan lebih banyak, tetapi ada pula yang tidak berkembang sama sekali. Ayam tersebut dapat dikembangkan lebih banyak seperti milik Ibu Siti Marjimah dan Ibu Supartini.
Dalam hal pembagian dan keterlibatan kerja, kelompok KWT ini perlu dijadikan contoh. Karena semua anggota punya peran dan fungsi yang sama, tugas ketua hanya sebagai coordinator. Karena pembagian tugas sudah teratur, dan masing-masing anggota mengetahui kewajiban apa yang diberikan kelompok padanya. Misalnya pada masa musim tanam, ada jadwal piket per hari, yang dibagi secara merata di semua anggota kelompok. Dan ketika pada masa pembuatan bedeng, dimana membutuhkan banyak tenaga, maka semua anggota kelompok turut terlibat di dalamnya.

Kesulitan yang dialami oleh kelompok KWT ini adalah keberadaan jamur tanah pengganggu yang membuat benih sayur dapat menjadi kerdil dan tidak laku dijual. Untuk tanaman brokoli ada jenis ulat tertentu yang tahan terhadap semprotan. Selain kesulitan di bidang produksi, juga kesulitan di bidang promosi. Karena akhir-akhir ini sulit mendapatkan pembeli di luar (pasaran), yang membeli hasil tanaman akhir-akhir ini adalah orang satu yang tinggal di perdukuhan yang sama.  KWT ini diharapkan mampu bertahan ke depannya, begitu kata Ibu Siti Marjimah. 

DI BALIK GUNUNG MASIH BANYAK GUNUNG



Oleh: Ahmad Sulistyo

Pegunungan seribu yang menjadi saksi bisu perjalananku…….

Siang itu,jadwal remedial anggota bermasalah di dusun Plebengan Tengah dan Plebengan Kidul. Dari rumah ke rumah ucapkan salam sediakan rayuan demi mendapatkan angsuran.

Pada saat itu ada salah satu anggota dari rembug tersebut,sebut saja namanya simbah samiyem,beliau sudah beberapa minggu tidak membayar angsuran,saya datangi ke rumahnya sering tidak ada di rumah,kata tetangganya sedang ke kebun persiapan panen singkong dimusim kemarau ini.

Dan pada suatu hari Alhambulillah saya bisa menjumpai simbah Samiyem di rumahnya.Seperti biasa saya ucapkan salam terlebih dahulu dan kemudian saya dipersilahkan masuk ke rumahnya.dimulai dari percakapan angsuran hingga cerita tentang kehidupan simbah Samiyem yang tinggal dibawah genting keripik (orang jawa bilang) yang disangga tulang tulang rumah yang mulai merapuh.Simbah Samiyem menanggung beban kebutuhan hidup cucunya sendirian karena ditinggal bapaknya menikah lagi.

Bermodal  tenaga,mbah Samiyem bertani sambil bekerja apabila ada orang yang membutuhkan bantuannya,dari situ simbah samiyem berharap bisa lulus menjalani kehidupannya dan bisa membesarkan cucunya.Kadang hati terasa bimbang antara menangguhkan atau memaksa untuk membayar membayar kembali pinjamannya.

Saya selalu berdoa semoga Alloh SWT memberi kelancaran rizki kepada anggota-anggota bermasalah dan Alloh juga melapangkan hatinya. karna saya yakin embun pertanda datangnya musim semi,dan semua akan indah pada waktunya.