Zakat Fitrah Dalam Bentuk Uang

Zakat Fitrah Dalam Bentuk Uang

Terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, yaitu:

1.Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang.

Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Dawud. Alasannya, syariat telah menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihnya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, jika dengan uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya. Menurut pendapat ini, menjadi lebih selamat jika meyelaraskan dengan apa yang disebut dalam hadits.

An-Nawawi mengatakan, ”Nukilan-nukilan dari Imam asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang).” (Al-Majmu’, 5/401). Ibnu Qudamah mengatakan, ”Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (al-Mughni, 4/ 295).

Pendapat ini pula yang dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan (Lihat: Fatawa Ramadhan, 2/ 918-928).

2.Boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang

Mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang diperbolehkan dengan syarat senilai dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-Majmu’, 5/402, Bada ’I’ush-Shana’i’, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379).

Dari kalangan ulama kontemporer, pendapat ini diambil oleh Syaikh Yusuf al-Qardhawi.

Terdapat pendapat lain yang membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang hanya dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu jika hal itu lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih memperudah bagi orang kaya. Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullahu berkata:

”Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya, seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau gandum terlebih dahulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya.” (Tamamul Minnah, hal. 380)

Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ al-Fatawa (25/ 82-83):

”Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yang kuat maka tidak boleh … Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan … Adapun mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka tidak mengapa …”

Pendapat ini dipilih oleh Syaikh al-Bani sebagaimana disebutkan dalam kitab Tamamul Minnah (hal. 379-380)

Sumber : Fikih Praktis Ramadhan oleh Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah

A. Makna Zakat Fitrah

Makna zakat secara bahasa adalah bertambah atau meningkat (an-Namaa) dan juga dapat diartikan berkah (barakah), banyak kebaikan (katsrah al-khair) dan mensucikan (thathhir).

Sedangkan makna zakat secara syar’i adalah: ”Nama harta tertentu, dikeluarkan dari harta tersebut dengan cara tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu.” (Ibrahim Al-Baijuri).

Arti fitrah adalah merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan. Allah subhanahu wataala berfirman:

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30)

Menurut Waqi’ bin Jarrah, zakat fitrahbagi orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah seperti sujud sahwi dalam shalat. Maksudnya zakat fitrah itu bisa menjadi penambal kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menambal ibadah shalat. Dibuktikan dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu:

”Rasulullah shallahu alaihi wassallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.” (H.R Abu Daud Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

B. Disyari’atkannya Zakat Fitrah

Zakat fitrah merupakan kewajiban yang diwajibkan kepada umat Islam, sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dan penyempurna puasa yang dilakukannya juga sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin, seperti disebut dalam hadits di atas.

C. Bentuk Zakat Fitrah

Bentuk Zakat Fitrah adalah makanan pokok masyarakat yang biasa dikonsumsi di suatu negeri. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ’anhu berkata:

”Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering).” (H.R al-Bukhari-Muslim)

Kata tha’aamin (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Pendapat ini dikuatkan dalam riwayat Abu Sa’id yang mengatakan:

”Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallalahu alaihi wasallam pada hari Idul Fitri. Abu Sa’id mengatakan lagi: ’Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma.” (H.R. al-Bukhari).

Ukuran 1 (satu) sha’ sama dengan 4 (empat) mud. Sedangkan 1 (satu) mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang. Satu sha’ menurut mazhab Maliki setara 2,7 kg menurut mazhab Syafi’i setara dengan 2,75 kg, menurut mazhab Hambali setara dengan 2,75 kg dan menurut Imam Hanafi setara dengan 3,8 kg.

Dewan Fatwa Saudi Arabia atau al-Lajnah ad-Da’imah yang diketahui Syaikh Abdurrazaq ’Afifi dan anggotanya Syaikh Abdullah bin Ghudayyan menakar 1 sha’= 3 kg. (Fatwa Al-Lajnah, 9/371).

Sementara, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan agar umat Muslim yang niat membayar zakat fitrah yang penyalurannya dapat melalui amil pada rumah zakat agar menggenapkan hitungannya menjadi 3 kg beras tiap orang. Perhitungannya berubah dari 2,5 kg tiap orang pada perhitungan selama ini.

Sumber : Fikih Praktis Ramadhan oleh Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I

Pihak-pihak yang Berhak Menerima Zakat

Pihak-pihak yang Berhak Menerima Zakat

Allah swt. berfirman, ”Sesungguhnya, zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan , Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (At-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat diatas, diketahuilah bahwa yang berhak menerima zakat ada delapan pihak:

  1. Orang Fakir

Pengertian fakir adalah orang yang tidak memiliki kemampuan dan tidak sanggup mencukupi kebutuhan diri dan anak-anaknya. Baik itu kebutuhan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, maupun yang lainnya.

  1. Orang Miskin

Orang miskin adalah orang yang membutuhkan, tapi kondisinya labih baik daripada orang fakir. Contohnya adalah orang yang memiliki sepuluh kebutuhan tetapi dia hanya dapat mecukupi tujuh atau depalan kebutuhan.

Nabi saw. bersabda,

”Orang miskin bukanlah orang yang biasa berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu pergi meninggalkan mereka setelah mendapatkan satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, ”Lantas, siapakah sebenarnya orang miskin itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, ”Orang miskin adalah orang yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaanya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya, dan tidak pula meminta-minta sesuatu kepada manusia.” (H.R Bukhari dan Muslima)

Orang fakir dan miskin menerima harta zakat yang dapat mencukupi kebutuhan mereka dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya selama satu tahun penuh.

  1. Pengurus Zakat (Amil)

Pengertian pengurus zakat adalah para petugas yang mengambil dan menyalurkan zakat yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menghimpun, mencatat, menghitung dan menjaganya. Mereka berhak mendapat bagian dari harta zakat selama tidak termasuk keturunan Nabi saw. karena mereka haram menerima zakat.

  1. Mu’allaf

Definisi mu’allaf adalah orang-orang yang hatinya sedang dibujuk atau diharapkan senang kepada Islam dengan diberi harta zakat, seperti tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakatnya yang diharapkan akan masuk Islam atau tidak mengganggu kehidupan kaum muslimin. Selain itu, muslim juga dapat masuk kategori muallaf bila diharapkan keislamannya menjadi lebih baik dan hatinya semakin teguh dengan ajaran Islam atau semisalnya. Nabi saw. pernah memberi harta zakat kepada orang-orang yang seperti itu.

  1. Budak

Kategori ini mencakup memerdekakan budak atau membantu budak yang sedang melakukan kontrak perjanjian dengan tuannya untuk memerdekakan diri, dan membebaskan tawanan yang berbeda di tangan musuh.

  1. Orang yang Memiliki Utang

Pengertiannya adalah orang-orang yang menanggung beban biaya orang lain atau hutang biasa yang harus segera dibayar, tanpa membedakan apakah utang tersebut untuk kepentingan pribadi yang bersifat mubah, seperti berutang untuk mencukupi nakah, pakaian, pernikahan, pengobatan dan semisalnya, atau utang untuk kemaslahatan orang lain, seperti  biaya mendamaikan dua pihak yang berselisih dengan cara menanggung beban utang salah satu pihak atau memberi jaminan kepada pihak lain.

Dalil yang menjadi sandaran masalah ini adalah hadits Qabishah Al-Hilali yang menyatakan, ”Aku pernah menanggung beban biaya (mendamaikan dua pihak yang berselisih) yang sangat berat, lalu aku datang kepada Rasulullah saw. untuk memohon bantuan beliau. Rasulullah saw. bersabda,

”Tinggalah di sini hingga kami menerima harta zakat dan memberikannya kepadamu.” (H.R Muslim, Abu Daud dan Nasa’i).

  1. Di Jalan Allah (Fii Sabilillah)

Maksudnya adalah para sukarelawan yang tidak menerima gaji resmi dari pemerintah, orang-orang yang mempertahankan benteng dan tentara yang menyerang musuh di jalan Allah. Orang yang menunaikan ibadah haji juga termasuk dalam golongan ini berdasarkan sabda Nabi, saw.

”Seandainya engkau tetap pergi haji dengan menungganginya (unta yang dia sediakan untuk berjuang di jalan Allah), maka perjalananmu termasuk di jalan Allah.” (H.R Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi).

  1. Musafir

Pengertiannya adalah orang yang berpergian jauh dari satu negeri ke negeri lain, tanpa bekal yang dapat mencukupi kebutuhannya selama di dalam perjalanan. Orang seperti ini berhak menerima zakat berupa bekal yang cukup hingga sampai di tempat tujuannya.

Sumber : Fiqih Sunah untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim

Pihak-pihak yang Berhak Menerima Zakat

Pihak-pihak yang Berhak Menerima Zakat

Allah swt. berfirman, ”Sesungguhnya, zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan , Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (At-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat diatas, diketahuilah bahwa yang berhak menerima zakat ada delapan pihak:

  1. Orang Fakir

Pengertian fakir adalah orang yang tidak memiliki kemampuan dan tidak sanggup mencukupi kebutuhan diri dan anak-anaknya. Baik itu kebutuhan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, maupun yang lainnya.

  1. Orang Miskin

Orang miskin adalah orang yang membutuhkan, tapi kondisinya labih baik daripada orang fakir. Contohnya adalah orang yang memiliki sepuluh kebutuhan tetapi dia hanya dapat mecukupi tujuh atau depalan kebutuhan.

Nabi saw. bersabda,

”Orang miskin bukanlah orang yang biasa berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu pergi meninggalkan mereka setelah mendapatkan satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, ”Lantas, siapakah sebenarnya orang miskin itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, ”Orang miskin adalah orang yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaanya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya, dan tidak pula meminta-minta sesuatu kepada manusia.” (H.R Bukhari dan Muslima)

Orang fakir dan miskin menerima harta zakat yang dapat mencukupi kebutuhan mereka dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya selama satu tahun penuh.

  1. Pengurus Zakat (Amil)

Pengertian pengurus zakat adalah para petugas yang mengambil dan menyalurkan zakat yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menghimpun, mencatat, menghitung dan menjaganya. Mereka berhak mendapat bagian dari harta zakat selama tidak termasuk keturunan Nabi saw. karena mereka haram menerima zakat.

  1. Mu’allaf

Definisi mu’allaf adalah orang-orang yang hatinya sedang dibujuk atau diharapkan senang kepada Islam dengan diberi harta zakat, seperti tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakatnya yang diharapkan akan masuk Islam atau tidak mengganggu kehidupan kaum muslimin. Selain itu, muslim juga dapat masuk kategori muallaf bila diharapkan keislamannya menjadi lebih baik dan hatinya semakin teguh dengan ajaran Islam atau semisalnya. Nabi saw. pernah memberi harta zakat kepada orang-orang yang seperti itu.

  1. Budak

Kategori ini mencakup memerdekakan budak atau membantu budak yang sedang melakukan kontrak perjanjian dengan tuannya untuk memerdekakan diri, dan membebaskan tawanan yang berbeda di tangan musuh.

  1. Orang yang Memiliki Utang

Pengertiannya adalah orang-orang yang menanggung beban biaya orang lain atau hutang biasa yang harus segera dibayar, tanpa membedakan apakah utang tersebut untuk kepentingan pribadi yang bersifat mubah, seperti berutang untuk mencukupi nakah, pakaian, pernikahan, pengobatan dan semisalnya, atau utang untuk kemaslahatan orang lain, seperti  biaya mendamaikan dua pihak yang berselisih dengan cara menanggung beban utang salah satu pihak atau memberi jaminan kepada pihak lain.

Dalil yang menjadi sandaran masalah ini adalah hadits Qabishah Al-Hilali yang menyatakan, ”Aku pernah menanggung beban biaya (mendamaikan dua pihak yang berselisih) yang sangat berat, lalu aku datang kepada Rasulullah saw. untuk memohon bantuan beliau. Rasulullah saw. bersabda,

”Tinggalah di sini hingga kami menerima harta zakat dan memberikannya kepadamu.” (H.R Muslim, Abu Daud dan Nasa’i).

  1. Di Jalan Allah (Fii Sabilillah)

Maksudnya adalah para sukarelawan yang tidak menerima gaji resmi dari pemerintah, orang-orang yang mempertahankan benteng dan tentara yang menyerang musuh di jalan Allah. Orang yang menunaikan ibadah haji juga termasuk dalam golongan ini berdasarkan sabda Nabi, saw.

”Seandainya engkau tetap pergi haji dengan menungganginya (unta yang dia sediakan untuk berjuang di jalan Allah), maka perjalananmu termasuk di jalan Allah.” (H.R Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi).

  1. Musafir

Pengertiannya adalah orang yang berpergian jauh dari satu negeri ke negeri lain, tanpa bekal yang dapat mencukupi kebutuhannya selama di dalam perjalanan. Orang seperti ini berhak menerima zakat berupa bekal yang cukup hingga sampai di tempat tujuannya.

Sumber Fiqih Sunah untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim

Zakat Peternakan

Zakat Peternakan

Jika Anda memiliki hewan ternak, maka tidak wajib mengeluarkan zakatnya kecuali jika telah terpenuhi beberapa syarat:
  1. Mencapai nishab,
  2. Kepemilikannya mencapai satu tahun, dan
  3. Hewan ternak tersebut tergolong sa’imah, yakin digembala di tempat terbuka dan bebas pada kebanyakan masanya sepanjang tahun.
Artinya, jika makanan ternak Anda disediakan maka tidak perlu mengeluarkan zakatnya.
Hewan ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya ada tiga jenis, yakni unta, sapi, kambing.
Zakat Unta
Nishab Zakat Unta
Unta tidak wajib dikeluarkan zakatnya apabila jumlahnya kurang dari 5 ekor. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw;
”Unta yang kurang dari lima ekor tidak dikenakan zakat.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Aturan Pengeluaran Zakat Unta
Jumlah unta dan zakat yang dikeluarkan setelah satu tahun, 5-9 ekor unta zakatnya 1 ekor kambing. 10-14 ekor unta zakatnya 2 ekor kambing, 15-19 ekor unta zakatnya 3 ekor kambing, 20-24 ekor unta zakatnya 4 ekor kambing, 25-35 ekor unta zakatnya Bintu Makhadh (unta betina berusia berusia 1 tahun), 36-45 ekor unta zakatnya Bintu Labun (unta betina berusia 2 tahun), 46-60 ekor unta zakatnya, Haqqah (unta betina berusia 3 tahun) , 61-75 ekor unta zakatnya Jadz’ah (unta betina berusia 4 tahun), 76-90 ekor unta zakatnya 2 ekor Bintu Labun, 91-120 ekor unta zakatnya 2 ekor Haqqah, 121-(lebih) ekor unta zakatnya 1 ekor Bintu Labun pada tambahan setiap 40 ekor unta dan 1 ekor Haqqah pada tambahan setiap 50 ekor unta.
Zakat Sapi
Nishab Zakat Sapi
Sapi tidak wajib dikeluarkan zakatnya bila jumlahnya kurang dan 30 ekor. Mu’adz ra. berkata, ”Rasulullah saw. mengutusku ke Yaman. Beliau menyuruhku mengambil (zakat) sapi, dari setiap 40 ekor diambil seekor musinnah (sapi betina berusia 2 tahun) dan dari setiap 30 ekor sapi diambil seekor sapi tabi’ (sapi jantan berusia 1 tahun) atau tabi’ah (sapi betina berusia 1 tahun).
Aturan Pengeluaran Zakat Sapi
Jumlah sapi dan zakat yang dikeluarkan setelah satu tahun 30-39 ekor sapi zakatnya Tabi’ atau Tabiah (sapi berusia 1 tahun), 40-59 ekor sapi zakatnya Musinah (sapi betina berusia 2 tahun), 60 ekor sapi zakatnya 2 ekor Tabi’.
Jika jumlahnya lebih dari 60 ekor, maka dari setiap tambahan 30 ekor sapi diambil 1 ekor Tabi’ dan dari setiap tambahan 40 ekor sapi diambil 1 ekor Musinnah.
Zakat Kambing
Nishab Zakat Kambing
Tidak wajib mengeluarkan zakat kambing bila jumlahnya kurang dari 40 ekor.
Aturan Pengeluaran Zakat Kambing
Jumlah kambing dan zakat yang dikeluarkan setelah satu tahun 40-120 ekor kambing zakatnya 1 ekor kambing, 121-200 ekor kambing zakatnya 2 ekor kambing, 201-300 ekor kambing zakatnya 3 ekor kambing. Jumlah 300 – (lebih) dari setiap tambahan 100 ekor diambil 1 ekor kambing sebagai zakatnya.
ZAKAT USAHA PETERNAKAN MODERN
Usaha peternakan modern saat ini berbeda dengan peternakan zaman dahulu. Peternakan saat ini lebih fokus pada daging dan susunya daripada pembiakan. Selain itu, sistem pemberian makanannya tidak lagi di padang gembala, tetapi diurus oleh para pekerja yang menanganinya.
Untuk usaha peternakan yang diambil dagingnya atau susu perahannya, ada empat pendapat yang beragam, yaitu sebagai berikut.
  1. Zakatnya adalah zakat perniagaan. Cara menghitungnya, semua nilai binatang ternak yang ada plus hasilnya. Bila nilai semuanya mencapai nisab (senilai 85 gram emas murni) dan genap satu tahun, maka dikeluarkan zakatnya 2,5%. Ulama yang sependapat dengan pandangan ini adalah DR. Ahmad al-Kurdi dan DR. Muhammad Raf’at Usman Pendapat ini mengkuti salah satu pendapat ulama klasik, yaitu Jalaluddin al-Muhammad dalam Syarh Minhajut-talibin.
  2. Untuk binatang ternaknya, zakat yang dikeluarkan adalah zakat binatang ternak. Sedangkan zakat dari susu hasil perahan adalah zakat perniagaan. Alasan kenapa susu perahnya terkena zakat karena kepemilikan binatang ternak itu untuk diambil hasilnya lalu dijual. Dengan demikian , baginya berlaku hukum zakat barang dagangan.
  3. Apabila kepemilikan atas binatang ternak itu untuk diambil hasilnya (susu), maka tidak ada kewajiban atas binatang ternaknya. Zakat cukup dikenai pada hasilnya (susu yang diperah). Sistem zakat hasil perahannya adalah zakat emas dan perak. Jika nilai hasil perahannya mencapai 85 gram emas, maka zakatnya 2,5%.
  4. Zakat dikeluarkan dari hasil peternakan itu, bukan ternaknya. Hanya saja, sistem zakatnya adalah zakat madu atau pertanian. Nisabnya senilai dengan 653 kilogram beras. Prosentase zakatnya 10% setelah dikurangi biaya operasional. Pendapat keempat merupakan pendapat Syekh Yusuf Al-Qardhawi di mana sebagian besar lembaga zakat di Indonesia mengikuti pendapat beliau.

 

Sumber : Fiqih Sunah untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dan PANDUAN ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) PRAKTIS oleh Abdul Rochim, Lc.

 

 

Zakat Perusahaan

Zakat Perusahaan

Pembahasan zakat perusahaan merupakan salah satu pembahasan kontemporer dalam zakat. Bila merujuk ke Al-Qur’an dan hadits, kita tidak menemukan teks secara eksplisit tentang zakat perusahaan. Ketiadaan teks secara eksplisit tentang zakat perusahaan dengan aneka ragam sektor dan jenis usahanya, membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat dan pendekatan. Meskipun demikian, ulama kontemporer sepakat bahwa harta perusahaan termasuk harta wajib zakat yang harus ditunaikan manakala memenuhi syarat-syaratnya.
A. Perusahaan Jasa
Perusahaan yang bergerak di bidang jasa beraneka ragam. Untuk perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan seperti rental, tempat tinggal, hotel, dan sejenisnya, para ulama berbeda pendapat mengenai sistem perhitungan zakatnya, yaitu sebagai berikut:
1) Zakatnya adalah zakat perniagaan dengan nisab 85 gram emas.
Cara menghitungnya adalah nilai aset + keuntungan x 2,5%. Ulama yang berpendapat demikian berhujjah dengan menganalogikan (kias) hasil sewa sebagai keuntungan, sedangkan aset dan sarana yang ada sebagai modal. Mereka memasukkan aset atau modal sebagai barang dagangan yang harus dikeluarkan zakatnya.
2) Zakat dikeluarkan dari hasil sewa saja.
Aset yang disewakan atau modal tidak termasuk dalam kategori harta wajib zakat. Zakat dikeluarkan setahun sekali setelah mencapai nishab. Ulama yang sependapat dengan pendapat ini menggunakan pendekatan zakat emas dan perak dengan nishab 85 gram. Sebagian besar ulama mengemukakan pendapat ini.
3) Zakat dikeluarkan dari hasil sewa dengan sistem zakat pertanian.
Sarana yang disewakan seperti rumah, properti, mobil dan sebagainya tidak dikenai kewajiban zakat. Penunaiannya pada saat menerima hasil sewa. Nilai zakat yang harus dikeluarkan adalah 5% (sebelum dipotong biaya operasional) atau 10% (setelah dipotong biasa operasional). Yang mengeluarkan pendapat ini adalah Syekh Yusuf al-Qardhawi dan yang lainnya.

B. Perusahaan Trading
Perusahaan trading adalah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis atau trading, yang termasuk dalam kategori bisnis adalah perusahaan atau usaha yang memiliki unsur jual beli. Sistem zakatnya mengikuti zakat perniagaan. Para ulama tidak berbeda pendapat dalam persoalan ini. Cara penghitungannya adalah nilai barang perniagaan yang dimiliki + uang yang beredar + piutang lancar – utang jatuh tempo x 2,5%. Nisabnya adalah 85 gram emas atau senilai dengannya.

C. Perusahaan Finance
Sektor usaha di bidang finance merupakan salah satu jenis usaha yang menjamur dimana-mana, baik berskala besar, menengah maupun kecil. Sistem zakat usaha finance dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu kolektif dan individual.
Untuk zakat secara kolektif, perusahaanlah yang mengeluarkan zakatnya. Hal ini disebabkan badan usaha memiliki kedudukan layaknya satu pribadi yang berkewajiban zakat. Di sisi lain, kekayaan yang ada pada perusahaan itu diberlakukan sebagai satu kesatuan. Misalnya, suatu bank ingin mengeluarkan zakatnya. Bank menghitung seluruh kekayaan wajib zakat yang menjadi miliknya, baru setelah itu menghitung zakatnya. Nasabah muslim bank tersebut juga mengikuti sistem zakat yang berlaku di bank itu dengan cara pemotogan 2,5% dari setiap nilai simpanan. Ketika perusahaan sudah mengeluarkan zakatnya, maka nasabah yang menaruh hartanya atau berinvestasi pada bank tersebut tidak berkewajiban lagi mengeluarkan zakatnya dari simpanan di bank tersebut. Terkecuali, bila simpanan nasabah telah lebih dari satu tahun.
Untuk zakat secara individual, setiap orang yang memiliki nilai uang pada bank atau lembaga keuangan mengeluarkan zakatnya sendiri-sendiri. Perusahaan finance hanya menzakati harta bersih yang menjadi miliknya. Cara menghitungnya semua nilai uang perusahaan (nilai harta lancar perusahaan + piutang – utang) x 2,5%. Pada penghitungan terpisah semacam ini, perusahaan tidak memasukkan uang nasabah dalam penghitungan zakat. Para nasabah mengeluarkan zakat atas hartanya masing-masing.

D. Perusahaan Manufaktur
Untuk perusahaan manufaktur, para ulama berbeda pendapat tentang cara mengeluarkan zakatnya. Dalam hal ini, ada tiga pendapat sebagai berikut.
1) Tidak ada zakat pada sarana produksi.
Zakat hanya dikeluarkan dari hasil produksi setelah berselang waktu satu tahun dan mencapai nisab. Nilai zakat yang dikeluarkan adalah 2,5%. Ulama yang sependapat dengan pandangan dengan pandangan ini adalah asy-Syaukani, Hasan Khan, dan pandangan Majma’ul Fiqh al-Islami (Komite Fikih Islami). Pendapat ini juga merupakan pendapat sebagian besar ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah, dan Syafi’iyyah.
2) Bagi perusahaan manufaktur, berlaku zakat periagaan.
Cara perhitungannya adalah nilai aset + hasil produksi x 2,5%. Ini adalah pendapat DR. Rafiq al-Mishri dan DR. Munzir Qahf. Kedua tokoh tersebut merujuk pada pendapat Ibnu ’Uqail al-Hanbali.
3) Metode zakatnya sama dengan zakat pertanian.
Zakat dikeluarkan dari hasil produksi saja, sarana dan peralatan untuk melakukan produksi tidak termasuk dalam hitungan wajib pajak. Nilai zakatnya adalah 10% dari hasil bersih dengan nisab senilai 653 kilogram beras atau 5 wasaq. Inilah pendapat dari Syekh Abu Zarah, Abdul Wahab Khalaf, Abdurrahman Husni, dan DR. Yusuf al-Qardawi. Mereka mengkiaskan usaha manufaktur dengan pertanian. Pabrik yang melakukan produksi dianalogikan sebagai tanah pertanian. Dan hasil produksinya dianalogikan dengan hasil pertanian.

PANDUAN ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) PRAKTIS oleh Abdul Rochim, Lc.

ZAKAT USAHA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN MODERN

ZAKAT USAHA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN MODERN

  1. Pertanian dan Perkebunan

Allah swt. berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S 2: 267)

Rasulullah saw bersabda, ”Tidak ada kewajiban zakat (atas hasil pertanian)di bawah 5 wasaq.” (H.R Bukhari Muslim)

Para ulama sepakat bahwa zakat diwajibkan atas jelai (sya’ir), gandum (qamh), kurma, dan anggur kering, sedangkan untuk tanaman yang lainnya para ulama berbeda pendapat.

Berdasarkan hadits di atas, para ulama berpendapat bahwa pertanian yang berupa makanan dan memungkinkan untuk disimpan, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Adapun hasil pertanian atau perkebunan yang bukan bertujuan untuk konsumsi ataupun tidak memungkinkan disimpan dalam waktu lama, para ulama berbeda pendapat tentang metode zakatnya.

 

  1. Zakat Usaha Pertanian dan Perkebunan Modern

Usaha pertanian dan perkebunan saat ini tentu berbeda dengan pertanian dan perkebunan pada masa Rasulullah saw. Sistem pertanian dan pengelolaan pertanian pada masa Rasulullan saw. masih sangat sederhana. Sebagian besar pengelolaannya masih bersifat individu dan belum berbentuk korporasi besar. Sementara pertanian dan perkebunan saat ini banyak yang bernaung di bawah perusahaan. Jenis pertanian dan perkebunannya juga tidak terbatas pada bahan makanan pokok.

 

  1. Zakat Hasil Usaha Pertanian dan Perkebunan untuk Bisnis

Tidak semua pertanian dan perkebunan bahan makanan atau buah-buahan layak dikonsumsi. Saat ini, banyak sekali manfaat perkebunan yang diperoleh dengan cara menjual hasil pertanian dan perkebunan tersebut. Misalnya, perkebunan karet, jati, akasia, kakau (coklat), dan kelapa sawit. Hal ini disebabkan seseorang tidak dapat menikmati karet secara langsung. Begitu pula hasil kelapa sawit, seseorang menanam tanaman tersebut bukan untuk mengonsumsi hasilnya, melainkan untuk menjual hasilnya.

Ulama berselisih pendapat tentang zakat atas pertanian dan perkebunan yang memiliki dua kriteria semacam itu, yaitu ada unsur perdagangan dan unsur hasil buminya. Dalam hal ini, ada dua pendapat sebagai berikut.

  • Zakatnya perkebunan. Nilai zakatnya 10% dari hasil yang diperoleh setelah mencapai nisab senilai dengan 653 kg beras. Pendapat ini dinyatakan oleh ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyyah dalam pendapat yang terbaru (qaul jadid) dan salah satu pendapat dalam mazhab Hanabilah.
  • Zakatnya adalah zakat perdagangan. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Hanafiyyah, ulama Syafi’iyyah dan sebagian kalangan dari Hanabilah.

Pendapat yang kuat dari dua pendapat di atas adalah pendapat yang pertama. Sebab, karakter yang melekat dan yang ada pada perkebunan tersebut adalah hasil bumi. Dengan demikian, tentu yang menjadi sandaran penghitungan zakatnya adalah berdasarkan zakat hasil bumi.

  1. Biaya Operasional

Mengenai biaya operasional, ada dua pertanyaan yang perlu diketahui jawabannya. Yaitu, apakah biaya operasional mengurangi kewajiban zakat? Dan, apakah utang untuk operasional mengurangi kewajiban zakat?

Dalam hal ini terdapat polemik antar ulama. Hal ini dikarenakan tidak ada nas (teks keagamaan dari Al-Qur’an dan hadits) yang secara eksplisit (terang-terangan) menjelaskan persoalan tersebut. Oleh karena itu, ulama kontemporer menggali pendapat para sahabat dan ahli fikih klasik.

  • Biaya operasional dan utang tidak mengurangi kewajiban zakat. Sebagai contoh, bila nilai hasil panen dengan pengairan dari sungai atau air hujan mencapai Rp 100 juta, maka zakatnya 10% yaitu senilai Rp 10 juta. Atau, bila pengairannya menggunakan biaya, maka zakatnya menjadi 5% yaitu senilai Rp 5 juta. Yang berpendapat ini adalah ulama Syafi’iyyah, Zahiriyyah, Malikiyyah, Ahmad (dalam satu riwayatnya), Hanafiyyah, al-Auza’i, dan Abdurrahman as-Sa’di. Mereka ber-hujjah (memberi argumentasi) Rasulullah saw. mengutus beberapa sahabat untuk mengambil zakat dari hasil pertanian umat Muslim saat itu. Saat menarik zakat, para petugas tidak bertanya tentang utang atau biaya operasional yang dikeluarkan oleh petani.
  • Biaya operasional dan utang untuk kebutuhan pokok pertanian dan perkebunan menjadi pengurang kewajiban zakat. Pendapat ini mengkuti pandangan ’Ata’, Hasan, dan an-Nakha’i.

Dari kedua pendapat di atas, pendapat pertama merupakan pendapat yang kuat. Sebab, penambahan biaya dalam hal itu berfungsi menambah penghasilan pertanian atau perkebunan.

PANDUAN ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) PRAKTIS oleh Abdul Rochim, Lc.

Zakat Perhiasan Emas Dan Perak

Zakat Perhiasan Emas Dan Perak

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak. Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat dari segi dalil dan lebih aman adalah pendapat yang menyatakan wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak jika telah mencapai nishab dan lewat satu tahun, baik perhiasan yang dipakai maupun yang disimpan. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut.

  1. Pengertian umum firman Allah swt., ”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”(At-Taubah: 34)

Ibnu Umar r.a. berkata, ”Harta yang dikeluarkan zakatnya tidak termasuk harta yang disimpan (kanz) meskipun dia terpendam di bawah tujuh lapis bumi, sedangkan harta yang terlihat tapi bila tidak keluarkan zakatnya maka dia termasuk harta yang tersimpan (kanz).”

  1. Pengertian umum hadits-hadits yang menyuruh mengeluarkan zakat emas dan perak, seperti sabda Rasulullah saw.

”Siapa pun yang memiliki emas tapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari Kiamat kelak akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan api, lalu ia digosok dengannya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

  1. Ada beberapa hadits yang secara khusus mengharuskan mengeluarkan zakat perhiasan dan menjelaskan ancaman bagi yang tidak mengeluarkannya. Salah satunya adalah hadits ’Amr bin Syu’aib. Ia menyatakan bahwa ayahnya meriwayatkan dari kakeknya bahwa suatu ketika seorang wanita menjumpai Rasulullah saw. Ia membawa putrinya yang saat itu di tangannya melingkar dua gelang tebal yang terbuat dari emas. Rasulullah saw. bertanya, ”Apakah engkau mengeluarkan zakat (gelangnya) ini?” Wanita itu menjawab, ”Tidak.” Rasulullah saw. berkata, ”Apakah engkau senang bila pada hari Kiamat kelak Allah memasangkan dua gelang (di tangannya) dari api neraka?” Maka, saat itu juga dia melepaskan kedua gelang tersebut dan meletakkannya di hadapan Nabi saw. seraya berkata, ”Keduanya kuserahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam hadits lain, Ummu Salamah ra. menyatakan, “Aku pernah memakai beberapa perhiasan emas, maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk harta simpanan (kanz)?’ Rasulullah saw. menjawab, ”Setiap harta yang telah mencapai (nishab) zakat lalu dikeluarkan zakatnya, maka dia tidak termasuk harta simpanan (kanz).” (H.R. Abu Dawud)

Kedua hadits di atas diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang diriwayatkan oleh ”Aisyah ra. dan Asma’ binti Yazid ra.

  1. Beberapa sahabat, seperti Ibnu Mas’ud ra., pernah ditanya oleh seorang wanita tentang perhiasan miliknya, apakah harus dikeluarkan zakatnya? Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika mencapai nilai 200 Dirham, maka keluarkanlah zakatnya.” Wanita itu bertanya lebih lanjut, ”Aku mengasuh beberapa anak yatim, apakah aku boleh membayar zakatnya kepada mereka?” Ibnu Mas’ud menjawab, ”Ya.”

’Aisyah ra. pernah berkata, ”Tidak masalah memakai perhiasan selama telah dikeluarkan zakatnya.”

Namun demikian, ada beberapa atsar dari Ibnu Umar, Jabir bin Abdulah, ’Aisyah, Asma’ binti Abu Bakar, semoga Allah meridhai mereka semua, yang menjelaskan bahwa perhiasan tidak perlu dikeluarkan zakatnya. Pendapat ini pula yang dinyatakan oleh Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Tidak diragukan bahwa pendapat pertama, yakni wajib mengeluarkan zakat perhiasan emas dan perak bila telah mencapai nishab dan lewat satu tahun, adalah pendapat yang lebih kuat dari segi dalil dan lebih berhati-hati dari segi pengalaman, serta lebih tepat untuk menghindari khilaf. Pendapat inilah yang dinyatakan oleh Abu Hanifah, Ibnu Hazn dan beberapa ulama salaf. Wallahu a’alam.

Sumber : Fiqih Sunah untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim

Gambar : Pinterest

Zakat Emas dan Perak

Zakat Emas dan Perak

Ali bin Abi Thalib ra. Menyatakan bahwa Nabi saw. bersabda :

“Jika engkau memiliki 200 Dirham (uang perak) dan kepemilikanmu mencapai satu tahun maka zakatnya adalah 5 Dirham. Sedangkan emas, engkau tidak wajib mengeluarkan zakatnya kecuali jika engkau memiliki 20 Dinar (uang emas). Jika engkau memiliki 20 dinar dan kepemilikanmu mencapai satu tahun maka zakatnya adalah setengah Dinar.” (H.R Abu Dawud)

Ketahuilah bahwa engkau wajib mengeluarkan zakat emas dan perak jika terpenuhi dua syarat berikut ini.

  1. Mencapai nishab
  2. Kepemilikanmu mencapai satu tahun (hijriyah) sejak memilki nishab. Nishab tersebut harus tetap sempurna selama satu tahun penuh.

Nishab Emas

Nishab emas adalah 20 Dinar = 85 gram emas 24 karat

Atau = 97 gram emas 21 karat

Atau = 113 gram emas 18 karat

Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 dirham = 595 gram perak

Nilai zakat emas dan perak bila telah terpenuhi dua syarat di atas adalah 2,5% dari jumlah emas atau perak yang telah mencapai nishab dan kepemilikannya sudah satu tahun.

Sumber : Fiqih Sunah Untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim

Zakat Profesi

Zakat Profesi

Zakat profesi atau penghasilan merupakan salah satu persoalan kontemporer. Istilah ini memang tidak ditemui secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun sunah seperti halnya zakat surat berharga, zakat pertambangan, zakat peternakan modern, zakat pertanian modern dan jenis zakat kontemporer lainnya. Meskipun demikian, ketiadaan penjelasan secara eksplisit dalam sumber primer ajaran Islam bukan berarti tidak ada hukumnya, bahkan bukan pula mengada-ada.

Tidak semua penghasilan masuk dalam kategori zakat profesi. Penghasilan yang masuk dalam kategori zakat profesi adalah penghasilan yang bersumber dari profesi sebagai karyawan, pegawai, profesional atau jasa dalam bentuk fisik atau tenaga.

Setelah melihat kedudukan profesi masa kini, ulama berpendapat bahwa penghasilan yang kita terima sebagai karyawan atau profesional harus dikeluarkan zakatnya bila telah memenuhi kriteria wajib zakat. Mengenai hal ini, ada beberapa pandangan ulama sebagai berikut.

  1. Sistem zakat profesi mengikuti sistem zakat pertanian. Apabila seseorang memiliki penghasilan yang mencapai nisab pertanian (653 kg beras), zakatnya adalah 2,5%. Sebagian kalangan berpendapat 5% sampai 10% sebagaimana nilai zakat pertanian. Pendapat ini dikemukakan ole Syekh Muhammad Al-Ghazali.

Pendapat ini juga tidak mensyaratkan adanya haul (kepemilikan satu tahun penuh) ketika menghitung zakatnya. Jadi, setelah seseorang menerima penghasilan, ia langsung mengeluarkan zakatnya 2,5%. Apabila ada sebagian dari penghasilan yang diterima itu ditabung, pada akhir tahun pertama ia tidak memasukkannya dalam perhitungan zakat tabungan. Sebab, satu harta hanya dizakati sekali dalam setahun. Ia akan memasukannya dalam perhitungan zakat tabungan pada tahun yang kedua.

  1. Zakat profesi mengikuti sistem zakat perak. Apabila seseorang memiliki penghasilan dalam setahun (setelah dikurangi kebutuhan pokok) mencapai senilai 200 dirham (sekitar 13 juta rupiah), ia wajib mengeluarkan zakatnya 2,5%. Ia juga bisa mengeluarkan zakatnya setiap bulan sebagai cicilan zakat atau memajukan zakat sebelum genap haul. Pendapat ini merupakan pendapat yang diikuti oleh sebagian besar lembaga zakat di Indonesia. Zakatnya bisa dikeluarkan per bulan atau diakhirkan pada akhir tahun.
  2. Zakat profesi menggunakan perhitungan zakat emas. Jika penghasilannya dalam setahun mencapai nisab setelah dikurangi kebutuhan, ia wajib mengeluarkan zakatnya 2,5%.

 

Sumber : Panduan ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) oleh Abdul Rochim, Lc.