Mendung masih berarak ketika kami sampai di kediaman Ibu Padmini. Tampak tanaman hijau mengisi halaman rumah beliau yang tidak terlalu besar. Bu Padmini menyambut kami dengan ramah. Dari keramaian yang terlihat, ternyata di rumah tersebut baru saja selesai mengadakan rembug minggon yang didampingi satu fasilitator dari GEMI Bantul.

Bu Padmini merupakan salah satu anggota GEMI yang bergabung di awal pembentukan GEMI.

“Saya awalnya cuma diajakin sama Bu Adila (tetangga kampung –red) untuk ikut GEMI. Beliau ini teman dari pengurus GEMI yang awal-awal, ngajak warga sini untuk bentuk kelompok sesuai dengan kriteria GEMI. Awalnya saya ditolak karena dianggap orang punya. Tapi kan itu harta orangtua saya ya, saya kan usaha sendiri. Saya juga single parent. Waktu itu saya ditolak masuk GEMI. Tapi ternyata ada satu kelompok yang anggotanya kurang, jadinya saya bisa ikut masuk, diterima jadi anggota GEMI.”

Pada awal berdirinya GEMI, GEMI memiliki cara unik untuk melaksanakan pendidikan dasar koperasi bagi anggotanya. Bu Padmini menuturkan bahwa waktu itu dari fasilitator memberikan uang seribu rupiah sebanyak 3x dalam 3 pekan. Uang yang diberikan dicatat nomor serinya, lalu disimpan dan tidak boleh tertukar dengan uang pribadi. Setelah pekan keempat, uang tersebut harus dikembalikan lagi kepada fasilitator.

“Saya waktu itu berhasil simpan uang tiga ribu itu tanpa tertukar. Tapi ada satu anggota saya yang nomor serinya berbeda dengan yang tercatat, entah tertukar sama miliknya atau bagaimana. Tapi ya setelah itu semua diterima sebagai anggota dan diberikan pembiayaan pertama,” ungkap Bu Padmini.

Pembiayaan pertama yang beliau dapatkan, digunakan untuk membeli etalase toko kelontong yang dimilikinya. Ternyata, Ibu satu putra ini ingin membuka usaha lain. Maka setelah pembiayaan ketiga beliau membeli mesin jahit.

Bu Padmini mengaku tidak ada masalah dalam pengangsuran pembiayaan yang didapatkan. Pembiayaan dari GEMI juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Keluarga juga mendukung beliau untuk mengambil pembiayaan di GEMI. Hal ini membuat beliau setia menjadi anggota GEMI selama +- 14 tahun.

Selain memiliki usaha jahit dan toko kelontong, Bu Padmini ternyata sangat aktif di kegiatan sosial. Beliau tercatat sebagai pengajar Kejar Paket di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pendowoharjo, Bantul.

“Saya ikut ngajar bukan karena uangnya. Saya mungkin belum bisa shodaqoh pakai uang yang banyak, makanya saya mencari sesuatu apa yang bisa saya kasih untuk masyarakat, untuk membantu orang lain. Saya juga cari dana ke dinas-dinas di Jogja. Entah itu Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan lain-lain. Saya selalu mencari sinergi, Mbak. Apa yang bisa diberikan dan  dimanfaatkan untuk masyarakat pokoknya saya berusaha bantu sebisa saya. Aku ora kelangan, masyarakat seneng, seko nDhuwur yo seneng soale danane iso disalurke.

Berbagai pelatihan beliau adakan untuk masyarakat terlebih untuk ibu-ibu rumah tangga. Pelatihan membatik, jahit, menulis dan memasak yang dilakukan oleh Bu Padmini tidak berbayar alias gratis. Bagaimana bisa? Pendanaan dari dinas-dinas sangat membantu untuk pelaksanaan program sehingga peserta tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali.

“Saya ada rencana lagi mau bikin pelatihan memasak yang nantinya akan dibuat kelompok usaha katering. Supaya ibu-ibu rumah tangga punya pemasukan sendiri dan bantu ekonomi keluarga, Mbak.”

Bu Padmini adalah salah satu pahlawan di sekitar kita. Karena pahlawan sesungguhnya dilihat bukan karena pangkat dan jabatan, namun dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat luas. (li)