Dalam Islam, seringkali aturan dimaknai secara tegas dan tidak membolehkan hadirnya diskursus di dalamnya. Dalam hal ini, bukanlah aturan Islam yang keliru, melainkan yang memaknailah yang keliru. Padahal, jika ditarik kebermanfaatan pada kondisi-kondisi tertentu, seharusnyalah aturan-aturan tersebut dapat didiskusikan secara baik.

Termasuk di dalamnya adalah diskursus mengenai wanita yang tidak diperbolehkan bekerja atau berkarier di dalam kehidupannya. Dalam kasus ini, terbagi dua pendapat dimana sebagian ada yang tidak membolehkan, ada sebagian yang membolehkan dengan batasan-batasan tertentu. Dalam artikel ini, akan mencoba membahas peranan wanita yang bekerja di dalam kehidupannya.

Islam sebenarnya telah menjamin hak wanita untuk berkarya di dalam hidupnya, termasuknya untuk berkarier dan bekerja. Namun jelas, syarat utama yang harus dimiliki adalah keyakinan bahwa tugas utama dan yang paling pertama adalah mengatur urusan rumah tangga. Kebanyakan ulama berpijak di dalam kehidupan Rasulullah, dimana saat itu ada wanita yang berpartisipasi di dalam peperangan, dengan tugas mengurusi masalah pengobatan, menyediakan alat-alat, dan mengangkut prajurit yang terluka. Selain itu, ada wanita yang juga ikut berpartisipasi di dalam perniagaan dan membantu suami dalam pertanian.

Dari kehidupan Rasulullah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya wanita diperbolehkan untuk bekerja dengan batasan-batasan sebagai kodrat wanita. Ia tidak diperbolehkan bekerja melebihi batas kodrat wanitanya seperti pekerjaan berat jaga malam, pekerjaan sulit saat peperangan dan tidak berpengaruh buruk terhadap janin yang dikandungnya.

Berpijak dari hal tersebut, dalam konteks saat ini, masyarakat juga memerlukan peranan wanita di dalam bidang-bidang yang sesuai dengan karakter wanita. Bidang-bidang administrasi dan penghitungan ekonomi yang memerlukan ketelitian dan ketelatenan tingkat tinggi sangat sesuai dengan karakter wanita, maka pada bidang ini, kehadiran wanita sangat diperlukan. Tidak dipungkiri pula di dalam bidang-bidang administrasi dan keuangan koperasi syariah.

Pada bidang-bidang ini, kehadiran wanita sangat dibutuhkan di dalam operasional koperasi syariah. Tingkat ketelitian dan ketelatenan tinggi yang dimiliki oleh wanita sangat bermanfaat untuk kemajuan koperasi syariah. Terlebih lagi jika kebanyakan anggota koperasi syariah adalah wanita, maka pengelola-pengelola wanita koperasi syariah yang akan berkomunikasi dengan anggota-anggota wanita ini.

Pada bidang yang lain, wanita dapat ditempatkan sebagai pembimbing sosial pada fungsi sosial koperasi syariah. Hal ini dimungkinkan dimana anggota-anggota koperasi syariah kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang memiliki usaha. Maka dengan hal ini, pembimbing sosial wanita diperlukan, karena dapat lebih memahami karakter ibu-ibu dan yang paling utama adalah untuk menjaga interaksi antar lawan jenis.

Sehingga dari hal tersebut, kehadiran wanita di dalam koperasi syariah tidak hanya memenuhi dan mendorong prinsip syariah, namun juga memilki nilai lebih dimana fungsi sosial koperasi syariah lebih terjamin keberlanjutannya ketika dalam kondisi-kondisi tertentu dijalankan oleh wanita.

Koperasi Syariah GEMI, berfokus pada pemberdayaan wanita terutama kaum ibu. Sehingga 90% anggota Koperasi GEMI merupakan perempuan. Tidak hanya itu, pengurus dan fasilitator GEMI mayoritas adalah perempuan. Mereka adalah sosok tangguh yang berjuang membuat kaum ibu berdaya.

 

 

Sumber : Syahatah, Husein. 1998. Ekonomi Rumah Tangga Muslim. Jakarta : Gema Insani.