Wanita-Wanita Populer dalam Perwakafan

Nama-nama kaum wanita setelah masa sahabat, yakni pada masa dinasti Umaiyah, tidak banyak yang dicatat oleh sejarah, khususnya dalam perwakafan. Hal demikian itu karena masa dinasti Umaiyah lebih banyak disibukkan oleh kegiatan perluasan wilayah geografis dan politis, disamping kesibukan meredam konflik internal umat Islam sendiri. Kemunculan peran wanita dalam ranah sosio-kultural baru terlihat lebih nyata pada masa dinasti Abbasiyah dan seterusnya. Kita sebut saja sebagai contoh :

  1. Zubaidah bint Abul Fadl, isteri Khalifah Harun al-Rasyid, dia banyak berperan dalam pengembangan perwakafan, baik dalam pengelolaan maupun sasaran peruntukannya. Dia telah menjual hartanya berupa tanah dan perkebunan di Ain Hunain, dan menginvestasikan untuk membangun salurun air bersih buat orang-orang yang sedang haji, umroh, maupun orang-orang yang berada disekitar kawasan situ atau yang bertempat tinggal/ menetap di situ, dan dapat memanfaatkan air itu dengan cuma-cuma sebagai hasil wakaf. Proyek ini yang kemudian dikenal sebagai “Ain Zubaidah” (mata air Zubaidah), proyek tersebut masih ada sampai sekarang.[7]
  2. Fathimah bint Muhammad al-Fihri, pada abad ke 3H, dia berasal dari Andalusia (Spanyol) kemudian hijrah ke kota Fez bersama keluarganya, ayahnya seorang yang kaya raya, ketika meninggal dia wariskan hartanya kepada dua orang puterinya, yaitu Fathimah dan Maryam. Fathimah mempunyai peran besar di dalam pembangunan kembali masjid jami’ Al-Qurawiyin yang terkenal di Fez (Maroko), yang kemudian juga berkembang menjadi salah satu universitas tertua di dunia Islam, bahkan konon katanya lebih tua daripada universitas Oxford maupun Cambridg. Semua dana yang digunakan itu berasal dari wakafnya.
  3. Fathimah bint Ismail salah seorang puteri raja di Mesir, yang terpanggil jiwanya untuk mengembangkan dunia pendidikan dan keilmuan. Dia telah menyediakan dana yang sangat besar dari wakafnya unuk mendukung pendirian universitas Mesir (sekarang menjadi universitas Cairo) yang waktu itu sedang terhenti karena kehabisan biaya. Dia menyadari betapa besarnya dana yang dibutuhkan agar dapat menyelesaikan universitas tersebut. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menjadikan tanah-tanahnya sebagian untuk tempat pembangunan kampus, dan sebagian lagi dijual untuk biaya pembangunannya, semuanya dijadikan barang wakaf. Selanjutnya dia juga membuat proyek beasiswa untuk para mahasiswa yang berprestasi, dan menjadikan istana tempat tinggalnya menjadi “museum pertanian” yang tergabung dalam universitas Cairo.[8]
  4. Zamrud Khotun, isteri sultan ‘Imaduddin Zanki telah memberikan wakaf untuk pendidikan, dia membangun Madrasah al-Khatuniyah al-Baraniyah pada tahun 526H, kemudian Khatun ‘Ishmatuddin, isteri sultan Nuruddin Zanki membangun Madrasah al-Khatuniyah al-Jawaniyah pada tahun 628H . Aktivitas wakaf di sektor pendidikan ini menjadi obsesi keluarga Ayyubiyah yang rata-rata mencintai ilmu dan ulama, seperti Rabi’ah Khatun dan Khadijah Khatun (khatun, merupakan nama kehormatan bagi kaum wanita pada masa dinasti Zankiyah dan Ayubuyah juga Mamalik). Semangat wakaf dalam sektor pendidikan ini di samping kebijakan kultural, ada juga motif politik, mengingat dinasti Zankiyah dan Ayyubiyah bertekad menghapus kekuatan Fathimiyah yang beraliran Syi’ah, menjadi kekuatan Sunny (Ahlussunnah wal Jama’ah) melalui penggalakan pendidikan di semua tingkatan dan di seluruh wilayah kekuasaannya (terutama wilayah Syam dan Mesir).
  5. Babah Khatun bint Asaduddin Sirakuh, yang mewakafkan rumahnya yang besar untuk dijadikan sebuah sekolah yang dinamai Madrasah “Al-‘Adiliyah as-Shughra“ pada tahun 655 H di Damaskus. Madrasah ini mengajarkan ilmu-ilmu agama aliran Ahlussunnah wal Jmam’ah, dalam ilmu fikih khusus mengajarkan fikih madzhab Syafi’I. Madrasah tersebut juga menyediakan beasiswa untuk para pelajar dan anak yatim, juga menyediakan gaji tetap untuk para pengajar, imam dan mu’adzin di masjidnya. Setiap bulan disediakan 100 dirham untuk pengajar/ guru dan bahan makanan. Di madrasah ini juga disediakan “mu’addib al-aitam” (pengasuh anak yatim) yang dibayar dan diberikan jaminan sosial, yang kesemuanya itu didapatkan dari wakaf.[9]

Semangat Berkelanjutan

Semangat berbagi melalui waqaf berlanjut sampai sekarang, di beberapa negara Islam yang sudah menjadikan waqaf sebagai budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari banyak ditemukan kaum wanita melakukan kiprahnya dalam memberikan harta wakaf dan mengelolanya dengan professional. Sebagai contoh, waqaf kaum wanita dalam era modern ini dapat disebutkan beberapa citra yang menarik.

  1. Malikah bint Muhammad al-Ghonim (Kuwait) memberikan untuk membangun masjid Al-Qathomi, dan sekaligus mewaqafkan dua rumahnya yang besar, yang satu untuk tempat “tahfizh al-Qur’an”, dan yang satunya lagi untuk tempat tinggal Imam masjid, dan ia juga menyediakan keperluan untuk mesjid, pembelajaran al-Qur’an, dan kebutuhan hidup Imam Masjjid al-Qathomi. Hal itu ia lakukan sampai meninggal pada tahun 1250 H/ 1834 M.
  2. ‘Ainulhayah Yusuf dan Futhumah Mandur (Mesir) pada tahun 1913 M. mewaqafkan tanah pertanian yang luas yang hasil selurunya untuk pelayanan tamu, dan mengangkat pejabat yang mengurusinya dengan memperolah honor yang layak.[10]Hal yang serupa juga dilakukan oleh Jalilah Thusun (Mesir), isteri Ahmad Zaki Fasya (sasterawan dan budayawan Mesir yang tekenal) berwaqaf dengan membangun asrama untuk anak-anak yatim perempuan yang diberi nama “Malja’ as-Sitt Jalilah”, mereka dididik dan diajari membaca menulis dan berhitung, serta ilmu-ilmu agama dan keterampilan (seperti menjahit, memasak dan lain-lain) yang dapat memberi manfaat kepada mereka.[11]
  3. Jauharah bint Faisal bin Turki (Arab Sa’udi) banyak memberikan waqaf untuk membantu kesejahteraan, antara lain menyediakan pakaian dan perhiasan yang diperlukan untuk pernikahan, sebagian dipinjamkan dan sebagian diberikan bagi yang kurang mampu.
  4. Maudla al-Mubarak as-Shabah (Kuwait) sejak tahun 1955 M. mewakafkan 1/3 dari seluruh harta peninggalannya yang banyak itu, untuk kesejahteraan umat, memberi makanan dan pakaian orang miskin, menyediakan tempat tinggal bagi para janda dan anak yatim, membantu pengobatan orang-orang yang sakit, dan untuk menolong orang yang tertimpa bencana.
  5. Sumaiyah bint ‘Ali (Qathar) yang mewakafkan sebuah vila mewah terdiri dari 17 kamar, waqaf tersebut diperuntukkan proyek pendidikan Al-Qur’an, memberikan beasiswa dan fasilitas kepada anak-anak yang belajar atau menghafal Al-Qur’an.[12]

Di Mesir, Kuwait dan beberapa negara Islam yang lain, kiprah kaum wanita dalam perwaqafan tidak sebatas memberikan harta waqaf, tetapi mereka juga banyak menjabat sebagai “Nazhir Wakaf“, untuk mengembangkan dan memberdayakan harta benda wakaf.[13]

Bagaimana sekarang dengan kiprah kaum wanita di Indonesia dalam perwaqafan?

(Tamat)

*) Ditulis oleh K.H. Tholhah Hasan, seorang profesor di bidang ilmu pendidikan dan ahli di bidang perwakafan. Saat ini ia menjabat sebagai ketua badan pelaksana Badan Wakaf Indonesia.

**) Artikel  dimuat di Jurnal al-Awqaf, Vol. 5, No. 1, Januari 2012.

[1] Penulis adalah seorang profesor di bidang ilmu pendidikan dan ahli di bidang perwakafan. Saat ini ia menjabat sebagai ketua badan pelaksana Badan Wakaf Indonesia.

[2] Al-Baladzury : 457; al-Mubarrid : 171.

[3] Riwayat Bukhari dan Muslim dalam kitab-kitab Shohihnya.

[4] Az-Zula’I : 477

[5] Al-Humaidan: 25.

[6] Auqafuna, 2008, hal : 38.

[7] Abu Razizah : 30.

[8] al-Khofaji, hal : 28 – 33.

[9] Auqafuna, 2008, halaman, 44.

[10] Ghonim : 325.