A. Makna Zakat Fitrah

Makna zakat secara bahasa adalah bertambah atau meningkat (an-Namaa) dan juga dapat diartikan berkah (barakah), banyak kebaikan (katsrah al-khair) dan mensucikan (thathhir).

Sedangkan makna zakat secara syar’i adalah: ”Nama harta tertentu, dikeluarkan dari harta tersebut dengan cara tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu.” (Ibrahim Al-Baijuri).

Arti fitrah adalah merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan. Allah subhanahu wataala berfirman:

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30)

Menurut Waqi’ bin Jarrah, zakat fitrahbagi orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah seperti sujud sahwi dalam shalat. Maksudnya zakat fitrah itu bisa menjadi penambal kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menambal ibadah shalat. Dibuktikan dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu:

”Rasulullah shallahu alaihi wassallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.” (H.R Abu Daud Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

B. Disyari’atkannya Zakat Fitrah

Zakat fitrah merupakan kewajiban yang diwajibkan kepada umat Islam, sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dan penyempurna puasa yang dilakukannya juga sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin, seperti disebut dalam hadits di atas.

C. Bentuk Zakat Fitrah

Bentuk Zakat Fitrah adalah makanan pokok masyarakat yang biasa dikonsumsi di suatu negeri. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ’anhu berkata:

”Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum, ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering).” (H.R al-Bukhari-Muslim)

Kata tha’aamin (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Pendapat ini dikuatkan dalam riwayat Abu Sa’id yang mengatakan:

”Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallalahu alaihi wasallam pada hari Idul Fitri. Abu Sa’id mengatakan lagi: ’Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma.” (H.R. al-Bukhari).

Ukuran 1 (satu) sha’ sama dengan 4 (empat) mud. Sedangkan 1 (satu) mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang. Satu sha’ menurut mazhab Maliki setara 2,7 kg menurut mazhab Syafi’i setara dengan 2,75 kg, menurut mazhab Hambali setara dengan 2,75 kg dan menurut Imam Hanafi setara dengan 3,8 kg.

Dewan Fatwa Saudi Arabia atau al-Lajnah ad-Da’imah yang diketahui Syaikh Abdurrazaq ’Afifi dan anggotanya Syaikh Abdullah bin Ghudayyan menakar 1 sha’= 3 kg. (Fatwa Al-Lajnah, 9/371).

Sementara, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan agar umat Muslim yang niat membayar zakat fitrah yang penyalurannya dapat melalui amil pada rumah zakat agar menggenapkan hitungannya menjadi 3 kg beras tiap orang. Perhitungannya berubah dari 2,5 kg tiap orang pada perhitungan selama ini.

Sumber : Fikih Praktis Ramadhan oleh Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I