Anda tentu pernah melihat hasil kreasi anyaman pandan berupa tas, dompet, tikar, dan lain-lain. Tahukah Anda bahwa tas tersebut terbuat dari pandan berduri? Pandan duri (Pandanus tectorius) sebenarnya tumbuh subur di daerah pantai dan pegunungan berkapur seperti Gunungkidul. Akan tetapi, masih sedikit pengrajin yang mengembangkan kerajinan tersebut.

Melalui fasilitator Koperasi GEMI, kami mendapat informasi bahwa di daerah Kedung Poh Lor, Nglipar, Gunungkidul terdapat pengrajin tikar mendong. Mendong (Fimbristylis umbellaris), yang memiliki nama lain purun tikus, merupakan rumput yang hidup di rawa. Setelah kami survey ke sana, ternyata ibu-ibu di sana hanya menganyam mendong tanpa mengetahui proses pengolahan mendong tersebut dari bahan mentah hingga siap dipasarkan.

Mereka mendapat bahan tersebut dari ’juragan’ dan nantinya hasil pengolahan juga akan dipasarkan oleh ’juragan’ tersebut. Akhirnya, ibu-ibu pengrajin hanya mendapat upah yang minim. Selain itu, kreativitas mereka juga tidak bertambah karena mereka hanya membuat produk sesuai permintaan ’juragan’. Padahal, mendong sendiri dapat dikreasikan ke berbagai bentuk produk, seperti: tas, sandal, dompet, tempat tissue, dan lain sebagainya. Namun, di pasaran, kreasi mendong kalah dengan kreasi pandan yang lebih bagus secara pewarnaan dan bahan. Anyaman mendong memang cenderung lebih lemas daripada anyaman pandan yang kaku. Selain itu, anyaman mendong berwarna lebih kusam sehingga kurang diminati. Dengan berbagai alasan tersebut, kami mencoba mengalihkan anyaman mendong yang telah biasa dilakukan oleh ibu-ibu di sana, ke anyaman pandan yang lebih banyak peminatnya.

pelatihan tas pandan
Di awal pelatihan, kami mencoba memberi gambaran kepada ibu-ibu yang biasa menghias anyaman mendong tentang produk anyaman pandan. Kami menunjukkan tas-tas dan dompet anyaman pandan yang sudah jadi, namun masih polos dan hanya di-bleaching (proses pemutihan dengan zat kimia). Kemudian kami bersama-sama menghiasnya dengan kain perca, manik-manik, dan juga bunga-bunga dari kain.Dari berbagai kerajinan anyaman pandan ini, yang paling laku di pasaran adalah clutch. Clutch merupaka tas yang digenggam dan biasanya digunakan saat pesta atau acara-acara formal. Harga clutch di pasaran dimulai denga harga Rp 50.000 untuk yang polos atau hanya diberi satu warna. Bila clutch sudah dihias, harganya bisa menjadi dua hingga empat kali lipat tergantung seberapa bagus hiasan dan bahan hiasannya.

Di pelatihan berikutnya, kami mencoba memberi warna ke pandan yang sudah dianyam. Kemudian ibu-ibu dilatih untuk mencoba membuat pola clutch. Ternyata beberapa ibu-ibu masih kesulitan untuk mengikuti. Meskipun demikian, ibu-ibu tetap antusias untuk menghias clutch anyaman pandan yang sudah jadi. Mereka pun menghias secara berkelompok.

Walaupun masih belum rapi, pandan yang biasa-biasa saja bisa terlihat lebih cantik dan elegan. Ke depan, kami berencana untuk melakukan studi banding ke rumah bapak Sutaryono. Beliau merupakan salah satu pengrajin anyaman pandan yang sudah sukses di daerah Pandak, Bantul. Beliau mengembangkan usahanya sudah lebih dari sepuluh tahun dan hasil produksinya sudah dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia.
pelatihan tas pandan
Harapan kami, ibu-ibu di daerah Nglipar bisa juga mencoba peluang usaha ini untuk menambah kesejahteraan ibu-ibu di sekitar daerah tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga menambah skill ibu-ibu yang sudah bisa menganyam mendong sebelumnya dengan kemampuan menganyam pandan yang pasarnya lebih potensial.