Sejak kecil kita tentunya sering mendapat pertanyaan, ”Kalau besar nanti, cita-citanya ingin jadi apa?” Mungkin sebagian akan menjawab ingin jadi dokter, pilot, guru, dan lain sebagainya. Lalu pernahkan terpikir di benak kita, apa cita-cita anak-anak bangsa yang mungkin hidupnya tak berpunya atau yang sudah ditinggal ayah atau ibunya, atau bahkan keduanya. Mungkinkah mimpi itu hanya akan berakhir menjadi bunga tidur dan lama-lama menjadi kabur sesaat setelah ia terbangun. Akankah pemandangan ini tak merisaukan hati-hati kita yang mungkin masih disibukkan dengan harta-harta dunia.
Siang itu selepas sholat Jumat, Gemi Maal mengadakan pertemuan dengan para calon penerima donasi beastudi untuk yatim dalam Program Gerakan Orang Tua Asuh Generasi Bintang. Acara tersebut diadakan di kantor Kopsyah (Kopersi Syariah) Gemi cabang Gunungkidul. Dalam pertemuan kali ini, kami mengadakan interview dengan para wali anak yatim dan juga melengkapi berkas-berkas terkait anak yatim calon penerima beastudi. Dalam pertemuan wali tersebut kami mampu mengetahui kondisi anak yatim dan keluarga wali secara langsung.

pertemuan wali orang tua asuh

Sementara itu, para anak calon penerima donasi beastudi Generasi Bintang dikumpulkan di ruang terpisah. Dalam forum ini kami mencoba mengeksplor dan memotivasi belajar anak-anak tersebut. Selain itu, kami juga menggali apa sebenarnya cita-cita anak-anak setelah dewasa nanti. Beberapa anak menjawab dengan percaya diri. Namun sebagian besar masih malu-malu dan tak yakin dengan cita-citanya. Kami pun mencoba memotivasi anak untuk terus bersekolah dan menuliskan cita-cita mereka agar dapat menjadi motivasi mereka saat semangat turun atau malas belajar. Pertama-tama mereka masih sulit untuk mengungkapkannya ke dalam tulisan. Namun akhirnya mereka pun bisa menuliskan hingga menggambarkannya. Acara diakhiri dengan penyerahan tabungan dan beastudi tunai kepada anak dan walinya.
whatsapp-image-2016-09-22-at-12-07-51
Selepas acara, Tim Gemi Maal berkumpul sejenak untuk evaluasi. Dalam obrolan itu, kami menyadari berbagai hal. Pertama, melalui interview dengan wali, kami menyadari bahwa kondisi anak-anak memang cukup memprihatinkan. Hal ini diperkuat saat di forum banyak anak yang sulit mengungkapkan cita-citanya. Secara psikologis, anak-anak memang terguncang dan kurang mendapatkan perhatian. Kedua, perlu adanya pendampingan psikolog untuk memberi motivasi anak yang lebih intens untuk terus belajar meskipun dalam keterbatasan.
Ke depannya, Gemi Maal punya harapan besar agar kelak para generasi bintang tak takut untuk memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun dalam berbagai kondisi. Tentunya hal ini tidaklah mudah. Untuk itu, kami mengajak bapak, ibu, dan saudara sekalian untuk ikut peduli dengan pendidikan putra-putri generasi bintang dan bergabung menjadi bagian dari gerakan kami 🙂