By; Syamsul Rodhi
 
Naik kendaraan dimusim hujan bukan sesuatu yang   menyenangkan, apalagi kita berlomba dengan dengan  waktu  dari rebug satu kerembug yang lainnya.

Yang saya ceritakan disini ,Adalah kisah di hari kamis di musim hujan, dimana saya harus mendampingi  rembug dengan wilayah 3 kecamatan, dimulai dari Rembug  pertama yaitu Gemi  Sejahtera  yang terletak di Ngagel, Karangmojo yang hadir hanya 3 orang karena anggotanya hanya tersisa 5 orang saja, cuaca masih aman saya melanjutkan kerembug kedua yaitu  Teratai  Indah yang belokasi di susukan IV Pojong dan alhamdulillah lancar dirembug ini tapi cuaca sudah mulai terlihat mendung. Wajar ini musim hujan.

Dirembug ketiga Lancar Usahaagak lama nunggu maklum rembug ini biasanya yang ditunggu-tunggu ketua rembug nya yaitu bu Puji asal hadir lebih awal maka cepatlah selesai. Suasana bertambah gelap mendung sudah mulai tanda-tanda hujan deras akan turun, buru-burulah saya meluncur kerembug ke empat yaitu Lestari Widodo masih dalam kecamatan Karangmojo Sebelum sampai ke lokasi saya menyempatkan diri sholat dhuhur singgah dimasjid. Sambil melepas lelah harap maklum belum ada jam istirahat yang jelas ini di lapangan, perlu pandai-pandai mengatur waktu.

Sampailah dirembug Lestari Widodo ibu-ibu sudah sebagian pada kumpul, sambil menunggu ane meneruskan transaksi, ketika sudah kumpul, di tengah-tengah acara ibu—ibu langsung bubar lari meninggalkan rembug karena ada kiriman petir yang bergemuruh disertai angin yang kencang. Sebagian besar langsung ijin pulang karena tidak sempat bawa payung, sekalian menyelamatkan jemuran yang belum terambil. Tinggalah saya sendiri melanjutkan traksaksi yang belum terselesaikan ditemani mbah Jum, tuan rumah sedang ibu-ibu yang lainnya sudah bubar.
 
Hujan ditunggu belum juga reda angin terlihat tambah kecang sambil ditemani teh panas buatan mbah Jum. Ditunggu-tunggu tidak juga reda akhirnya  terpaksa melanjutkan perjalanan kerembug terakhir yaitu Ngudi Raharjo. Hujan begitu deras dan angin sangat kencang menghalangi perjalanan yang disertai banjir. Dalam pikiranku wah ini bisa bahaya kalau dilanjutkan”, takut kejatuhan pohon akhirnya saya berhenti sejenak disebuah masjid  sambil telpon ketua rembugnya “mohon maaf bu, saya datang agak terlambat karena di sini hujan deras”. Karena hujan tidak berhenti,  terpaksa harus lanjut terus.

Sampailah ke rembug terakhir,Rembug Ngudi Raharjo yang belokasi di selang V Wonosari, sambil mengucapkan salam agak keras “Assalamu’alaikum” , ternyata tak ada orang “wah, ternyata rembugnya podho bubarpikir saya. Tiba-tiba tuan rumah muncul ee maaf mas, Gemi ne pindah rumah sebelah maklum rumah pada bocor.”. Ooo geh bu” sambil menuju rumah sebelah ternyata ibu-ibu masih kumpul menunggu kedatangan ane.

Sambil basa basi dan minta maaf datang terlambat karena ujan deras, akhirnya saya duduk di tikar yang disediakan untuk membuka acara dan melajutkan transaksi simpan pijamnya,  ketika ditengah transaksi tiba-tiba hujan deras tambah petir  bergememuruh ibu-ibu langsung lari ke tepi dinding sementara saya ditinggal sendiri. Kasihan deh, kebetulan listrik pun mati ditambah genteng pada bocor. Akhirnya terpaksa mencatat sambil berdiri tikar pada basah, suasana gelap dan berpindah-pindah sambil cari cahaya. Alhamdulillah selesai juga pekerjaanku diakhir cerita saya pamit dan pulang ke kantor. Da aaaaa

Inilah sepenggal kisah yaang saya alami diawal saya masa-masa training menjadi fasilitator digemi ternyata banyak suka dukanya, semoga kisah ini bisa bermanfaat.  jazakumullah
 


Edited By : Akhmad Arifin