Berawal dari pengalaman seorang yang bernama Muhammad Yunus. ketika kuliah di Amerika serikat Ia kuliah di Universitas Chittagong, sebuah kampus yang letaknya terpencil dan dekat dengan pemukiman kumuh. Waktu itu ia melihat musibah kelaparan melanda pemukiman dekat kampusnya. Apalagi, ilmu yang digelutinya adalah ilmu ekonomi. Sangat kontras, di sebuah kampus banyak mahasiswa mempelajari tentang teori-teori pembangunan ekonomi, tetapi di dekatnya terdapat bencana kelaparan. Hal yang sama juga bisa terjadi di mana saja, baik itu di Bangladesh, asal seorang Muhammad Yunus, maupun di Negara kita, Indonesia. Sebuah kampus yang concern di bidang ilmu Pembangunan dan Ekonomi, terletak di sebuah populasi penduduk miskin.
Muhammad Yunus mendapatkan inspirasi mendidikan Grameen Bank dari seorang pedagang kecil. Seorang pedagang kecil yang harus banting tulan untuk menganyam bamboo, tetapi margin keuntungan tak sebesar hasil usahanya. Muhammad Yunus lalu mengambil inisiatif untuk meminjamkannya modal kerja yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha pedagang kecil tersebut, agar tak terbebani dengan pasokan bahan bambu dimana harganya sudah ditetapkan oleh makelar.
Muhammad Yunus menyadari bahwa tak hanya satu pedagang yang mengalami kejadian serupa, tetapi banyak yang bernasib sama. Kemudian ia memberikan modal sebanyak 42, dimana mereka rata-rata sebagai pedagang kecil. Muhammad Yunus sering memantau bagaimana para pedagang tersebut menggunakan modal pinjamannya untuk mengelola usahanya, agar modal yang mereka dapat dikembalikan. Ternyata tingkat pengembalian hutang mereka rata-rata tepat waktu, bahkan banyak dari mereka yang mengajukan kredit tambahan lagi untuk mengembangkan usahanya. Ini lah yang jadi cikal bakal gerakan grameen bank. Sebuah bank yang diperuntukkan kepada kelompok usaha tak mampu, agar berdaya dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.
Sasaran bidik Grameen Bank ini sebelumnya tak pernah satu pun dilirik oleh bank-bank konvensional (lembaga keuangan kredit pada umumnya). Mereka lebih memilih untuk meminjamkan modal pinjaman kepada usaha besar yang mempunyai laporan keuangan, dan punya jaminan atas pinjaman. Yang dibutuhkan oleh bank adalah sebuah kepastian, sehingga jika terjadi kredit macet, bank berhak mengambil jaminan. Adanya agunan dan laporan keuangan ini lah yang tidak memungkinkan usaha kecil yang dikelola ibu-ibu untuk meminjam uang di bank konvensional. Padahal mereka juga membutuhkan modal juga, untuk mengembangkan usahanya.
Ketiadaan bank untuk kredit kecil, atau sekarang dikenal dengan ‘microfinance’, menyebabkan munculnya rentenir di wilayah-wilayah miskin. Mereka meminjamkan uang, dengan bunga sangat tinggi, bahkan sampai 10% per minggu. Patokan ini dibuat oleh rentenir, karena mereka membutuhkan profit nyata yang dapat dilihat dengan cepat dengan pembukuan sederhana. Mereka tinggal mendatangi para “nasabah”nya tiap minggu, sehingga mereka memiliki keuntungan 40% dari modal awal pinjaman mereka. Tidak dapat dibayangkan jika dengan uang 10 juta, misalnya, mereka mendapatkan pengembalian bersih sekitar 4 juta rupiah. Mekanisme kredit ini terjadi sejak masa dahulu, dulu dalam system kredit zaman jahiliyah dikenal dengan nama riba ‘adh-‘afan mudho’afah (membungakan uang dengan cara berlipat ganda hingga menjerumuskan orang miskin, kepada lembah kemiskinan lagi.
Keberhasilan Muhammad Yunus mengembangkan system perkreditan kecil kepada beberapa orang, membuatnya semakin percaya diri untuk mengembangkan system ini lebih besar. Maka ia mengajak para mahasiswanya untuk “magang” di sebuah desa untuk belajar langsung tentang kemiskinan. Kemudian berkembang lagi, hingga menyebabkan mengubah cara pandang perbankan sebelumnya yang masih menutup rapat-rapat dari permodalan usaha kecil.
Mindset yang berkemabng dalam perbankan pada umumnya adalah orang miskin malas bekerja, tidak dapat mengukur labanya, tidak dapat mengkalkulasi dan memanaje keuangan, sehingga mereka diragukan kemampuannya untuk mengembalikan modal tepat waktu. Dari sini , kemudian berkembang ratusan lembaga kredit mikro, tidak hanay di Bangladesh, melainkan di Negara-negara lain, termasuk Negara Indonesia. Mereka banyak mereplikasi dari system perbankan yang diterapkan oleh Muhammad Yunus, kemudian diterapkan di lingkungan mereka. GEMI adalah salah satu lembaga keuangan mikro, yang mereplikasi system Grameen Bank.
Hal ini dapat dilihat dari para nasabah GEMI yang rata-rata adalah kaum pedagang kelas menengah ke bawah. Mereka pada umumnya juga kurang memiliki akses ke lembaga kredit , semacam Bank KOnvensional. Karena perbankan masih menerapkan administrasi yang njlimet, dengan kantor yang terkesan ‘wah’ sehingga masih dirasa menjaga jarak dengan para pengusaha kecil.
GEMI juga mempunyai misi kemanusiaan yaitu mengentaskan kemiskinan dengan cara memberikan bantuan modal kepada pengusaha kecil, dan sebagai bagian dari perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia. Karena dalam salah satu butir Hak Asasi Manusia didalamnya tercakup pernyataan bahwa semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pemodalan untuk usaha. Nilai pemberdayaan ini lah yang harus tetap dijaga. Untuk itu, para calon nasabah ketika mengajukan pinjaman, harus lah seorang yang memiliki usaha untuk dikembangkan, tidak diperkenankan modal pinjaman GEMI digunakan untuk aktivitas non produktif.