Sebuah pesan dari sebuah ayat: “Laa yughoyyirullahu biqoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim”, Allah tidak lah merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubah apa-apa yang ada dalam dirinya. Pesan dari ayat ini mengisyaratkan tentang inti dari sebuah perubahan, yaitu dimulai dari menggerakkan apa-apa yang jadi potensi diri kita. Ini lah yang disbeut dengan “Pemberdayaan” atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah “Empowering”.

Dalam kegiatan Empowering, elemen utama dalam pemberdayaan adalah masyarakat itu sendiri, bukan fasilitator. Tugas fasilitator hanya lah sebagai pendorong, agar semua bakat dan potensi yang ada pada diri masyarakat muncul. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan bisa dikatakan berhasil jika, masyarakat berinisiatif melakukan kegiatan, baik kegiatan social atau kegiatan usaha, untuk memperbaiki situasi dan kondisinya sendiri.

Kegiatan Pemberdayaan Sosial, membutuhkan stimulasi. Stimulasi bisa berupa pelatihan maupun modal. Dengan pelatihan, masyarakat memperoleh pengetahuan hendak kemana mereka melangkah, dan bagaimana prosesnya. Sedangkan dengan modal, mereka dapat bergerak melakukan perubahan dengan kemampuan finansial yang mereka miliki.

Banyak terjadi kekeliruan pemahaman, bahwa proses pemberdayaan adalah proses pemberian hibah. Dalam metode pemberian hibah, tak banyak perubahan yang terjadi. Masyarakat relatif terjadi perubahan jika diberikan dana pinjaman. Seperti dalam pemberdayaan masyarakat kecil di Bangladesh oleh Grameen Bank yang diinisiasi oleh Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian.

Hal ini terjadi Karena dengan dana pinjaman, mereka dapat bertanggungjawab, punya inisiatif, dan punya motivasi untuk mengembalikan jumlah pinjaman yang mereka terima. Beberapa bantuan dana modal berupa hibah dari pemerintahan, banyak yang mengalami kegagalan.