Lahan yang dipakai secara Bersama-sama oleh Kelompok Wanita Tani “Berkah Rezeki”
Kelompok Wanita Tani (KWT)  “Berkah Rezeki” mulai berdiri sejak tahun 2010. Sebelum berdiri sudah berdiri KWT tetapi di tingkat perdukuhan. Sedangkan berkah rezeki, hanya tingkat tetangga dekat atau setingkat RT, dengan ketua Ibu Siti Marjimah. 
Nama “Berkah Rezeki” sendiri adalah nama rembug kelompok GEMI di wilayah mereka. Karena sebagian besar dari mereka adalah para ibu anggota Gemi, maka daripada mencari nama baru, bagi perkumpulan orang yang sama, maka diambil lah nama yang sama pula, yaitu “Berkah Rezeki”.
Kelompok Wanita Tani, secara kumpulan orang sudah ada, kemudian disolidkan dengan hadirnya GEMI, kemudian menjadi KWT “Berkah Rezeki”. Perencanaan dan Sosialisasi KWT sejak tahun 2010, tetapi baru berjalan setelah menerima bantuan sosial pada tahun 2012.
Anggota KWT “Berkah Rezeki” sendiri fluktuasi. Ketika masa awal berdiri, kelompok ini, berjumlah kira-kira 10-an orang, tetapi seiring perkembangan waktu, melonjak jadi 20 orang. Tetapi dalam satu tahun terakhir, menurun lagi hingga berjumlah kira-kira 10 orang.
Kegiatan yang dilakukan oleh KWT “Berkah Rezeki” adalah melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman sayuran. Kelompok membeli bibit, kemudian ditanam menjadi benih, kemudian beihnya dijual ke pasaran. Hasil dari penjualan, tidak masuk ke kantong pribadi para anggota KWT, tetapi masuk ke kas KWT. Dari kas KWT kemudian diputar untuk pemodalan para anggotanya;
Pembelian Benih >>> Penanaman Benih >> Penjualan Benih >> Kas KWT >> Simpan Pinjam

Benih tanaman sayuran yang digunakan oleh KWT “Berkah Rezeki”

Dari sini, maka ada sumber pemodalan KWT Berkah Rezeki, yaitu sumber pemodalan dari diri mereka sendiri, dan sumber pemodalan dari Koperasi GEMI.
Penghasilan bersih dari kegiatan produktif ini, tidak lah seberapa, karena hanya menghasilkan sekitar Rp. 150.000,00 per bulan, itu saja hanya ditanam pas musimnya. Lahan yang dipakai oleh KWT “Berkah Rezeki” sendiri adalah hasil pinjaman dari lahan yang tidak terpakai, milik salah satu anggota KWT. Yang menyediakan lahan buat kelompok, tanpa dipungut bayaran (tidak sewa).
Selain kegiatan pembibitan, kelompok ini sebenarnya membagi-bagikan ayam kampong, sejumlah 5 ekor pada tiap anggotanya. Diharapkan dengan diberikan 5 ekor tersebut dapat berkembang menjadi banyak. Tetapi, ada beberapa anggota yang bisa mengembangkan lebih banyak, tetapi ada pula yang tidak berkembang sama sekali. Ayam tersebut dapat dikembangkan lebih banyak seperti milik Ibu Siti Marjimah dan Ibu Supartini.
Dalam hal pembagian dan keterlibatan kerja, kelompok KWT ini perlu dijadikan contoh. Karena semua anggota punya peran dan fungsi yang sama, tugas ketua hanya sebagai coordinator. Karena pembagian tugas sudah teratur, dan masing-masing anggota mengetahui kewajiban apa yang diberikan kelompok padanya. Misalnya pada masa musim tanam, ada jadwal piket per hari, yang dibagi secara merata di semua anggota kelompok. Dan ketika pada masa pembuatan bedeng, dimana membutuhkan banyak tenaga, maka semua anggota kelompok turut terlibat di dalamnya.

Kesulitan yang dialami oleh kelompok KWT ini adalah keberadaan jamur tanah pengganggu yang membuat benih sayur dapat menjadi kerdil dan tidak laku dijual. Untuk tanaman brokoli ada jenis ulat tertentu yang tahan terhadap semprotan. Selain kesulitan di bidang produksi, juga kesulitan di bidang promosi. Karena akhir-akhir ini sulit mendapatkan pembeli di luar (pasaran), yang membeli hasil tanaman akhir-akhir ini adalah orang satu yang tinggal di perdukuhan yang sama.  KWT ini diharapkan mampu bertahan ke depannya, begitu kata Ibu Siti Marjimah.