Oleh: Ahmad Sulistyo

Pegunungan seribu yang menjadi saksi bisu perjalananku…….

Siang itu,jadwal remedial anggota bermasalah di dusun Plebengan Tengah dan Plebengan Kidul. Dari rumah ke rumah ucapkan salam sediakan rayuan demi mendapatkan angsuran.

Pada saat itu ada salah satu anggota dari rembug tersebut,sebut saja namanya simbah samiyem,beliau sudah beberapa minggu tidak membayar angsuran,saya datangi ke rumahnya sering tidak ada di rumah,kata tetangganya sedang ke kebun persiapan panen singkong dimusim kemarau ini.

Dan pada suatu hari Alhambulillah saya bisa menjumpai simbah Samiyem di rumahnya.Seperti biasa saya ucapkan salam terlebih dahulu dan kemudian saya dipersilahkan masuk ke rumahnya.dimulai dari percakapan angsuran hingga cerita tentang kehidupan simbah Samiyem yang tinggal dibawah genting keripik (orang jawa bilang) yang disangga tulang tulang rumah yang mulai merapuh.Simbah Samiyem menanggung beban kebutuhan hidup cucunya sendirian karena ditinggal bapaknya menikah lagi.

Bermodal  tenaga,mbah Samiyem bertani sambil bekerja apabila ada orang yang membutuhkan bantuannya,dari situ simbah samiyem berharap bisa lulus menjalani kehidupannya dan bisa membesarkan cucunya.Kadang hati terasa bimbang antara menangguhkan atau memaksa untuk membayar membayar kembali pinjamannya.

Saya selalu berdoa semoga Alloh SWT memberi kelancaran rizki kepada anggota-anggota bermasalah dan Alloh juga melapangkan hatinya. karna saya yakin embun pertanda datangnya musim semi,dan semua akan indah pada waktunya.