Pemberdayaan
Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang artinya kekuatan. Kata ini diimbuhi kata “ber” jadi berdaya, yang artinya punya kekuatan/kemampuan sendiri. Kata “berdaya” diimbuhi kata “pem”-“an” menjadi pemberdayaan, yang artinya membuat seseorang/sesuatu menjadi kuat/berdaya hingga mempunyai kemampuan/kekuatan sendiri.
Kata “Pemberdayaan” sebenarnya bisa dikaitkan dengan apa saja, tetapi pada lazimnya kata ini dikaitkan dengan kata masyarakat, menjadi “Pemberdayaan Masyarakat” yang artinya, proses pembangunan dimana masyarakat berinisiatif memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi sendiri. (Wikipedia).
Jika dipikir-pikir, tidak mungkin seluruh masyarakat langsung mempunyai inisiatif secara spontan bersama-sama untuk memajukan diri mereka sendiri, tanpa adanya stimulant (rangsangan) apapun. Adalah suatu sunnatullah, jika aksi-reaksi personal atau masyarakat sangat tergantung adanya stimulasi dari luar dirinya sendiri. Stimulasi itu dapat berupa kejadian alam, kejadian sosial atau informasi yang berasal dari luar yang dapat dijadikan sumber inspirasi.
Begitu juga dengan Pola perubahan sosial, biasanya ada agen sosial (individu) yang menginisiatif anggota masyarakat lainnya, atau adanya media dari luar, yang menstimulasi satu atau beberapa anggota masyarakat, sehingga mereka bergerak untuk memberdayakan dirinya, menuju perubahan sosial yang lebih baik.
Peran Kaum Ibu
Secara kodrati, sebenarnya lelaki dan perempuan diberikan kelebihan yang berbeda-beda. Lelaki punya kelebihan fisik dan mobilitas di luar rumah. Tak kalah dari kaum lelaki, perempuan mempunyai kelebihan lainnya, yaitu kecerdasan komunikatif. Hal ini dapat dilihat secara empiric, bahwa tali penghubung antar rumah tangga dalam masyarakat, sangat ditentukan oleh pertemuan antara ibu-ibu. Baik di forum warga (seperti kegiatan PKK, arisan, dll), pengajian, sampai forum ‘rasan-rasan’.
Dalam kehidupan budaya Jawa keseharian, ketika ada sebuah keluarga “nduwe gawe”,  kaum ibu punya peran vital. Tak hanya di bidang konsumsi, tetapi juga berperan vital di “belakang layar”. Kaum ibu mudah digerakkan, untuk mengajak ibu-ibu lainnya menghadiri kegiatan. Tetapi, Peran kaum ibu ini seringkali dipandang sebelah mata.
Tak hanya pada kehidupan sosial, kaum ibu juga punya kelebihan lain, yaitu dalam pengaturan keuangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kaum ibu rata-rata mempunyai keunggulan dalam mengatur uang masuk-keluar daripada kaum bapak-bapak. Sehingga, secara umumnya, dalam kehidupan keluarga, ibu berperan sebagai “bendahara” keluarga. Lazimnya, penghasilan yang didapatkan dari keluarga diserahkan kepada pihak ibu, dan pihak ibu mengatur, seberapa uang yang diterimanya, untuk apa, targetnya untuk apa, dan berapa savingnya, ia sudah kalkulasi semuanya. Sehingga, ia akan keberatan jika uang yang dibawah kontrolnya, digunakan untuk keperluan tidak penting, seperti uang rokok.
Kaum ibu punya jiwa setiti, rapi, dan terkontrol, dalam urusan rumah tangga. Di masyarakat lapis bawah, dimana banyak keluarga mendirikan usaha keluarga (home industry) kecil, ibu berperan sentral. Mereka rata-rata dapat mengetahui dan mengendalikan seberapa laba yang mereka hasilkan, dan seberapa yang semestinya mereka keluarkan untuk belanja barang. Tak sedikit kasus, dimana ada home industry milik keluarga tiba-tiba colaps, karena ketidakhadiran seorang istri, karena meninggal atau karena sebab lainnya.
Aktualisasi Potensi Kaum Ibu
Sebagaimana fitrahnya, kaum Ibu ternyata diberi potensi (mazidah) sangat besar dari Allah. Sangat mubazir, jika besarnya potensi tersebut disia-siakan begitu saja. Akibatnya, banyak perkumpulan ibu-ibu tidak diarahkan menuju tindakan bermakna, tetapi diarahkan ke hal-hal negative, seperti tindakan rasan-rasan. Makanya, banyak aktivis dari kaum ibu yang mengarahkan mereka membentuk arisan bersama, perkumpulan ibu-ibu PKK sampai pengajian ibu-ibu di masjid.
Potensi dari kaum ibu ini juga dapat diarahkan menuju perbaikan ekonomi. Mengingat beberapa potensi yang mereka miliki, 1) punya jaringan yang lebih intensdalam masyarakat dimana mereka hidup. 2) punya skill komunikatif yang lebih baik, 3) punya skill manajemen keuangan yang lebih hebat dibanding kaum bapak-bapak. Potensi ini tidak hanya dimiliki oleh kaum ibu-ibu di Indonesia, tetapi di Negara-negara berkembang lainnya, seperti India, Brazil, Srilanka, Bangladesh, dst.
Mengingat potensi besar ini, seorang ekonom Bangladesh, Muhammad Yunus, mengembangkan system perbankan, ditujukan untuk mengembangkan usaha yang dikelola oleh para kaum ibu di negaranya, dengan nama Grameen Bank. System ini berhasil menginisasi kaum ibu, kemudian direplikasi oleh para aktivis perempuan di Negara-negara berkembang lainnya, termasuk di Indonesia.
Kelebihan Memberdayakan Kaum Ibu
Memberdayakan kaum ibu lebih mudah memberdayakan kaum Bapak. Karena pada umumnya, siklus kehidupan kaum ibu lebih banyak berinteraksi di tengah masyarakat daripada siklus kehidupan bapak. Lazimnya, lelaki yang bekerja, pagi sampai sore hari mereka bekerja, sore sampai malam, digunakan untuk istirahat atau ‘maen’ ke beberapa sobatnya. Kaum lelaki lebih menyukai apa yang jadi pilihan mereka pribadi. Sehingga banyak waktu terbuang untuk memenuhi hasrat selera (hoby) mereka, seperti memancing, dangdutan, sampai nonton bola. Berbeda dengan kaum ibu, mereka mudah digerakkan ke perkumpulan.
Memberdayakan perempuan di desa-desa, secara fakta, mempunyai keberhasilan yang relative lebih tinggi daripada memberdayakann para pengusaha menengah. Dalam kasus Grameen Bank, rata-rata pengembalian modal, dari pengusaha kecil perempuan, lebih terjamin daripada pemberian modal dari bank-bank konvensional, kepada para nasabahnya yang rata-rata pengusaha-pengusaha kelas menengah ke atas.
Pemberdayaan yang ditujukan kepada kaum ibu, juga dapat memenuhi jiwa ‘kemanusiaan’, karena sesuai fitrah kita yang diberikan nurani, juga karena anjuran agama, tentang mengutamakan hak-hak kaum lemah, dan mengeluarkan kaum mustadh’afin menuju ke keadaan yang lebih baik.