Oleh   : Pera Soparianti
Sumber : http://www.rahima.or.id/


Satu lagi ide menarik dalam pemberdayaan perempuan, yaitu konsep Grameen Bank ala Muhammad Yunus. Muhammad Yunus yang dilahirkan di Bathua Chittagong ini, telah mengharumkan nama Bangladesh. Alumni Universitas Vanderbilt Amerika tahun 1969 yang saat ini menjadi salah satu dosen ekonomi di universitas Chittagong yang ada di Bangladesh telah merubah citra Bangladesh yang merupakan salah satu Negara termiskin dunia, kini dikenal sebagai Motherland of microfinance (ibu dari usaha kecil) yang sering juga disebut banking the unbankable (bank yang tidak memberlakukan syarat-syarat bank). Sehingga tak salah kalau Grameen Bank yang ia gagas membuatnya menerima Nobel Perdamaian di bidang ekonomi pada 2006 lalu. Berbagai model pelayanan keuangan pada masyarakat miskin dari Banglades ini telah direplikasi pada sekitar 40 negara (Asia Pasifik, Afrika, Amerika latin, dan Eropa).

Keberhasilan Yunus dalam keuletan dan kegigihan mengembangkan teori Grameen Bank ini, tidak lepas dari pengaruh yang kuat dari sosok ibunya. Anak ke tiga dari pasangan Dula Mia dan Sofia Khatun ini banyak belajar dari sikap Ibunya yang keras dan tegas. Ibunya sosok penegak disiplin dalam keluarga. Perhatian ibunya kepada kaum miskin sangat besar, sehingga membuat Yunus tertarik mempelajari ekonomi dan perubahan sosial.

Grameen  Bank: Harapan bagi Survival Perempuan Miskin
Data Grameen Bank pada 2007, menunjukkan dari sekitar 7 juta orang miskin yang mendapatkan pinjaman di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen di antaranya perempuan. Konsep Grameen Bank yang Yunus kembangkan sejak 1974 di Negara asalnya ini telah memberikan perubahan yang luar biasa dalam upaya menanggulangi kemiskinan yang mayoritas adalah kelompok perempuan.

Di Bangladesh, separuh dari jumlah penduduk jauh lebih miskin ketimbang petani marginal. Petani yang tidak memiliki lahan umumnya menjadi buruh harian dengan upah termurah. Merekalah kebanyakan kaum perempuan, yang jika tidak punya pekerjaan mereka akan mengemis. Selama 10 jam sehari, kaum perempuan miskin ini akan mengirik gabah dengan kakinya demi 40 sen atau senilai AS$,4 atau 40.000 Rupiah. Kaum perempuan ini banyak yang menjadi janda karena suaminya meninggal, cerai, atau suaminya meninggalkannya pergi dengan meninggalkan anak-anak yang harus diberinya makan.

Hasil sejumlah survei menunjukkan, ada peningkatan usaha ekonomi dan kesejahteraan keluarga dalam keluarga yang mendapatkan pinjaman Grameen Bank dengan masyarakat yang tidak mendapatkan. Dari persentase pekerja di pedesaan yang umumnya hanya 4 persen, di desa Grameeen Bank ada sebesar 5 persen, artinya meningkat 1 persen. Begitu juga persentase jumlah anggota keluarga yang bekerja di desa Grameen Bank sebanyak 1,75 orang, sementara di desa non-Grameen Bank hanya 1,43 orang. Penghasilan rumah tangga nasabah Grameen Bank lebih besar 28 persen ketimbang bukan nasabah, bahkan jika dibandingkan dengan rata-rata rumah tangga di desa yang tak ada Grameen Bank pendapatannya 43 persen lebih tinggi. Hasil studi lain pada 1996 ditemukan ada korelasi signifikan antara keanggotaan Grameen Bank dan pemberdayaan kehidupan sosial dalam hal penggunaan alat kontrasepsi; pemberontakan terhadap sistem patriarkal; dan politik. Artinya, keberadaan Grameen Bank selain membuat ekonomi warga miskin “menggeliat”, secara sosial-politik mereka terberdayakan.

Ada beberapa alasan mengapa konsep Grameen Bank yang dikembangkan Yunus lebih mengutamakan kepada kelompok perempuan. Pertama, dari segi ketenagakerjaan, perempuan pada umumnya bukan tenaga kerja produktif, sehingga dengan bantuan kredit mereka bisa melakukan usaha produktif di sela-sela mengurus rumah tangganya. Kedua, secara kultural, perempuan terbiasa mengurus ekonomi rumah tangga (manajer keuangan), sehingga dia bisa dengan mudah mengelola keuangan itu dengan baik. Ketiga, secara emosional, perempuan lebih dekat dengan anak-anaknya sehingga ketika perempuan memiliki penghasilan dia akan lebih mengutamakan kepentingan keluarganya terlebih anaknya. Sehingga perempuan menjadi kunci utama dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia anak-anaknya. Keempat, kredit merupakan jembatan emas menuju persamaan hak perempuan terhadap laki-laki.

Kilas Balik Sejarah Grameen Bank
Pada 1974 Bangladesh yang menjadi Negara kelahiran Yunus mengalami bencana kelaparan yang luar biasa, sehingga menewaskan jutaan penduduk. Sebagai seorang warga Negara juga ekonom, hati Yunus guncang dan dia merasa sangat bersalah karena dirinya sebagai seorang ekonom tidak bisa mempraktikkan ilmunya di masyarakat. Rasa bersalah itu, akhirnya mendorong Yunus bertekad mengabdikan ilmu juga jiwanya demi kepentingan masyarakan Bangladesh yang saat itu terkena bencana.

Tekad Yunus semakin kuat untuk membatu mengatasi kemiskinan di Bangladesh setelah ia mengetahui ada seorang ibu perajin bambu bernama Sufia Begum bolak-balik berutang kepada tengkulak untuk mendapat modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa Jobra dekat Universitas Chittagong tempat ia mengajar, meminjam uang 5 taka atau kurang dari Rp 850 untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut (Rp. 850/bangku) berikut bunganya sebesar Rp 184 (baca: Nilai mata uang 1974). Melihat kasus Sufia, Yunus bergumam, “Oh Tuhan… hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus.“

Setelah itu, Yunus dengan dibantu beberapa mahasiswanya membuat riset kecil-kecilan terkait kasus-kasus serupa dengan Sufia. Dari hasil riset ditemukan total pinjaman korban rentenir mencapai 27 dollar AS untuk 42 orang. Lalu Yunus mengelurkan uang dari koceknya untuk melunasi rentenir. Saat itu, dia yakin jika orang miskin diberi akses kredit seperti yang diterima orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. Keyakinan Yunus tidak meleset.

Tahun 1983, akhirnya Yunus mendirikan bank sendiri bagi kaum miskin bernama ‘Grameen Bank’ atau Bank Pedesaan. Saham dan kepemilikan bank sebagian besar milik kaum miskin dan hanya sebagian kecil saja dari pemerintah. Dengan semboyan ‘memberi kail bukan ikannya’ Grameen Bank dalam waktu singkat berhasil meminimalisir kemiskinan di Bangladesh.

Untuk menjamin pembayaran dari para peminjam, Grameen Bank menggunakan sistem Grup Solidaritas, dimana sekelompok orang terdiri dari 5 anggota mengajukan pinjaman, dan kesemuanya bertindak sebagai penjamin. Bila salah satu dari mereka tidak bisa membayar tanggungannya, maka yang lain harus membantu atau istilahnya tanggung renteng. Sehingga kemungkinan dana tidak kembali dari tiap-tiap kelompok sangat minim. Bila satu kelompok telah berhasil mengembalikan pinjaman, dana yang ada akan digunakan oleh kelompok lainnya. Dengan sistem ini wajar, Grameen Bank hingga 2007 secara akumulatif telah memberi kredit sekitar AS$6 miliar, dengan tingkat pengembalian 99 persen.

Perjuangan Muhammad Yunus dalam upaya menanggulangi kemiskinan di Bangladesh menjadi inspirasi bagi kita semua. Sebab penguatan ekonomi bagi masyarakat menjadi hal yang sangat mendasar. Seseorang bisa jadi anarkis, radikal, bahkan keluar dari keyakinan karena masalah ekonomi. Semoga ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah juga kita sebagai pegiat hak-hak perempuan dalam menanggulangi kemiskinan yang makin hari semakin meningkat. Semoga! [] (Diambil dari berbagai sumber)