Usaha Las Aluminum Milik Bu Lusi

Usaha Las Aluminum Milik Bu Lusi

Apa saja akan dilakukan seorang ibu demi memperbaiki ekonomi keluarga kecilnya. Hal ini juga dilakukan oleh Ibu Lusianingsih dari Sewon, Bantul. Istri dari Pak Naryoto ini bergabung dengan GEMI Bantul pada tahun 2011. Kala itu beliau masih mencari peluang usaha yang mungkin bisa beliau lakukan di rumah beliau.

Pada tahun 2013, beliau memulai usaha las alumunium bersama suaminya. Pembiayaan dari GEMI beliau gunakan sebagai modal membeli peralatan las dan bahan baku. Bu Lusi dan Pak Naryo menerima pesanan seperti etalase, rolling door, galvalum, dan lain sebagainya.

Pelanggan beliau banyak dari dalam kota, tetapi beliau juga sering menerima pesanan dari luar kota seperti Solo dan lain-lain. Berkat keuletan beliau berdua, usahanya kini maju pesat. Omzet yang didapatkan setiap bulan  bisa mencapai Rp 7.000.000,00 dengan keuntungan bersih mencapai Rp 3.000.000,00.

Ibu dua putra ini mengaku senang bisa menjadi anggota GEMI karena sangat membantu modal usaha dan perekonomian keluarga. Di GEMI juga sering diadakan pelatihan keterampilan usaha bahkan acara gathering untuk anggota agar dapat saling bertukar pikiran satu sama lain.

Fasilitator : Goib Andiatma

Agar Produknya Mendunia, Puluhan Anggota GEMI Mengikuti Pelatihan Marketing Online

Agar Produknya Mendunia, Puluhan Anggota GEMI Mengikuti Pelatihan Marketing Online

Sejak bulan Juli 2020, puluhan anggota GEMI mengikuti pelatihan marketing online. Pelatihan ini diadakan berkat kerjasama antara Tokopedia, CCFI, dan ASPPUK. Pelatihan ini diikuti oleh ratusan pegiat UMKM di seluruh DIY. Puluhan diantaranya adalah difabel yang memiliki usaha seperti wayang, makanan khas, dan lain lain.

Kegiatan ini meliputi bagaimana memasarkan produk UMKM secara digital hingga pelaku UMKM dapat meningkatkan penjualannya melalui toko online.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, jika hanya mengandalkan toko offline maka penjualan akan terus menurun. Tren menunjukkan bahwa konsumen yang membeli barang lewat toko online cenderung meningkat.

Oleh karena itu, pelatihan ini diharapkan mampu membantu UMKM tetap eksis dan bisa bertahan di tengah pandemi global ini. Karena tidak hanya sekadar pelatihan, namun peserta juga diberi pendampingan untuk setiap produknya yang dipasarkan melalui toko online. (li)

Bu Sapon Bukan Sekadar Pengumpul Rosok

Bu Sapon Bukan Sekadar Pengumpul Rosok

Adalah Bu Sapon yang bertempat tinggal di Dusun Cempluk RT 04 RW 15 Pacarejo Semanu Gunungkidul.

Ibu yang memiliki 1 anak ini sehari-hari membantu suaminya Pak Drimin untuk menekuni usaha jual beli barang bekas (rosok).  Sulitnya  mendapat pekerjaan dan memiliki modal usaha yang minim adalah alasan beliau menjalankan usaha ini.

Usaha yang dimulai sejak th 2006 ini awalnya menghasilkan sekitar Rp35.000 perhari karena hanya mampu menjangkau dusun sekitar tempat tinggalnya saja.

Pada tanggal 23 Februari 2015 Bu Sapon bergabung menjadi anggota GEMI, dan beliau mendapatkan pembiayaan pertamanya untuk menambah modal sebesar Rp 800.000. Pembiayaan awal tersebut ternyata sangat berpengaruh bagi beliau sehingga beliau bisa menambah penghasilanya mencapai Rp50.000 perhari. Sampai saat ini Bu Sapon mendapatkan pembiayaan dari GEMI hingga sebesar Rp 5.000.0000 untuk menambah modal usahanya,

Usaha beliau terus berkembang hingga dapat menjangkau wilayah lain seperti Wonosari, Siono, Logandeng dan Playen Gunungkidul. Rosok yang beliau dapatkan bisa langsung dijual pada pengepul yang bertempat di Baleharjo sehingga  tidak perlu ditampung di rumahnya.

Saat ini Bu Sapon dan suami mampu menambah penghasilanya mencapai Rp 150.000 perhari. Dan jika beruntung mendapatkan barang bekas yang masih bisa diperbaiki atau masih bisa digunakan kembali seperti sepeda dan  televisi, Bu Sapon bisa mendapatkan untung yang lumayan besar yaitu sekitar Rp 350.000 karena bisa dijual lagi pada pada tetangga atau orang lain untuk di gunakan kembali.

Niku (itu –red) bonuse pedagang rosok, Pak,” ungkapnya sambil tertawa.

 

Fasilitator : Wasgiyanto

Mengapa Anak Muda Mesti Aktif di Koperasi Syariah?

Mengapa Anak Muda Mesti Aktif di Koperasi Syariah?

Eksistensi koperasi syariah sekarang ini memberikan dampak positif yang cukup signifikan di berbagai kalangan masyarakat. Mayoritas kepala keluarga maupun ibu-ibu yang membuka usaha, menjadi anggota koperasi syariah untuk mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimilikinya.

Tak hanya kaum-kaum dewasa berkeluarga yang dapat memanfaatkan kehadiran koperasi syariah ini. Bagi anak-anak muda yang mulai berpikiran dewasa untuk menyiapkan masa depannya, koperasi syariah dapat menjadi salah satu pilihan untuk menempa dirinya. Koperasi syariah dapat dijadikan sebagai sebuah instrumen penunjang dalam mengembangkan dirinya. Setidaknya tiga manfaat yang dapat dirasakan secara langsung bagi anak muda ketika dirinya bersentuhan dengan koperasi syariah,

  1. Belajar berinvestasi

Peranan ekonomi yang diemban koperasi syariah dalam mempertemukan pemilik modal dengan pemilik usaha yang membutuhkan modal dapat dijadikan sebagai best practice pemuda dalam memahami seluk beluk investasi. Bagaimana cara memilih strategi investasi yang baik, memilih pengusaha yang dapat dipercaya dan terjamin perkembangannya memberikan pengalaman yang sangat baik bagi pemuda untuk mengembangkan dirinya menjadi seorang investor di masa depan.

  1. Mempertajam kepekaan sosial

Peranan sosial yang dijalankan koperasi syariah memberikan aspek pengalaman yang berbeda dari lembaga keuangan yang lainnya. Aksesibilitas koperasi syariah kepada mayoritas masyarakat menengah ke bawah memberi pengalaman kepada pemuda untuk bertemu secara langsung pada lapisan masyarakat ini. Dari hal tersebut, pemuda dapat memperkuat rasa bersyukur akan apa yang dimiliki dan memanfaatkan dengan sebaik mungkin apa yang dimilikinya. Selain itu, adanya program kebajikan koperasi syariah bagi kaum dhuafa mengajarkan pemuda untuk memahami akan kewajiban menolong sesama yang melekat di dalam dirinya. Pelembagaan pertolongan yang dilakukan koperasi syariah juga mengajarkan bahwa menolong sesama pun memiliki aturan tersendiri demi optimalisasi bantuan yang diberikan.

  1. Memperkuat pemahaman agama

Konsep syariah yang dijalankan oleh koperasi syariah juga berperan dalam memberikan pemahaman yang baik kepada pemuda untuk memahami operasionalisasi syariah agama di dalam aspek ekonomi. Dengan memahami hal tersebut, akan memberikan sebuah kesadaran dan bersyukur akan agama yang dianutnya. Bahwa agamanya turun ke muka bumi untuk mengatur segala hal tentang kehidupan manusia dan bersifat menyeluruh. Dari sini, ketaatan agama pemuda untuk menciptakan generasi yang mengamalkan agamanya secara baik dapat dibangun secara komprehensif.

Masih banyak hal positif lainnya yang didapatkan dengan aktif di dalam koperasi syariah. Jika saat ini kita telah mengetahui banyak manfaat yang dapat didapat, maka sudah seharusnyalah mulai saat ini kita mencoba bergabung dan mengajak kawan-kawan yang lainnya untuk ikut berperan aktif di dalam koperasi syariah.

 

(berbagai sumber)

Peranan Sosial Koperasi Syariah

Peranan Sosial Koperasi Syariah

Salah satu peranan terpenting yang dimiliki koperasi syariah adalah fungsi sosial yang dimilikinya. Hal inilah yang dirasa oleh berbagai kalangan sangat cocok di dalam semangat ekonomi kerakyatan yang diharapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan semangat gotong-royong, koperasi berdiri, dengan semangat ekonomi kerakyatan, koperasi syariah dilahirkan.

Selain itu, peranan ini pulalah yang membedakan koperasi syariah dengan koperasi pada umumnya. Jika di dalam koperasi umum, setiap pinjaman yang dilakukan oleh para anggota dikenakan aturan yang sama, maka di dalam koperasi syariah dikenakan aturan yang berbeda sesuai dengan kondisi dari peminjam anggota.

Di dalam koperasi syariah, program ini dikenal dengan program kebajikan. Ketika anggota membutuhkan dana darurat, dapat diberikan pinjaman dana kebajikan yang tidak mengenakan margin ataupun bagi hasil, srtinya anggota hanya mengembalikan sebesar dana yang dipinjamkan. Selain itu, koperasi syariah diharuskan pula menghimpun dana ziswaf yang dapat disalurkan kepada anggota mustahik ataupun masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat.

  1. Al Qardh

Koperasi syariah memberikan fasilitas peminjaman darurat kepada anggotanya dimana anggotanya hanya berkewajiban mengembalikan sesuai dengan yang dipinjamnya, baik sekaligus maupun dicicil dalam waktu tertentu. Dalam hal ini koperasi syariah tidak menerapkan sama sekali margin ataupun bagi hasil. Sumber dana ini berasal dari modal koperasi syariah atau dari laba yang dihasilkan koperasi syariah.

  1. Al Qardhul Hasan

Koperasi syariah memberikan fasilitas pinjaman usaha mikro atau kebutuhan lainnya kepada anggotanya atau masyarakat yang dianggap dhuafa yang membutuhkan tanpa disertai imbalan dengan kewajiban anggota mengembalikan pokok pinjaman sekaligus atau dicicil dalam jangka waktu tertentu. Pada prinsipnya sama dengan Al Qardh, hanya perbedaannya program ini boleh dikenakan kepada masyarakat umum bukan anggota dan dananya bukan bersumber dari modal koperasi syariah ataupun laba yang dihasilkan, namun berasal dari sana ZIS (zakat, infak, shadaqoh).

Dari hal ini dapat dimaknai bahwa koperasi syariah memiliki peranan sosial yang cukup signifikan di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya hadir untuk menyejahterakan anggotanya, namun juga lahir sebagai lembaga yang melembagakan dan mengatur fungsi sosial tolong-menolong di dalam masyarakat. Ketika seseorang mengikatkan diri untuk menjadi anggota koperasi syariah, maka dalam hal ini pula terlekat fungsi sosial di dalam dirinya untuk menolaong orang lain yang membutuhkan.

 

Sumber : Buchori, Nur S. 2012. Koperasi Syariah : Teori dan Praktik. Tangerang Selatan : Penerbit Pustaka Aufa Media (PAM Press).

Bu Sumirah yang Berjualan dari Rumah

Bu Sumirah yang Berjualan dari Rumah

Dari Padukuhan Pakelrejo, Piyaman, Wonosari, kita berjumpa dengan Bu Sumirah. Sebagai pedagang toko kelontong dan sayuran, beliau memang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Bu Sumirah merupakan anggota Koperasi GEMI Gunungkidul yang tergabung dalam Rembug Madep Mantep.

Bu Sumirah menekuni usaha jualan sayur semenjak bergabung menjadi anggota GEMI pada tahun 2008. Latar belakang kehidupan beliau adalah petani tadah hujan yang hanya mengandalkan curah hujan untuk irigasi sawahnya. Dalam cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini, tentunya hasil pertanian beliau berkurang dari tahun ke tahun.

Untuk menambah penghasilan dan membantu perekonomian rumah tangga, beliau memulai usaha jual sayur di rumah. Kenapa memilih usaha ini karena beliau beralasan di daerah dimana beliau tinggal jarang yang berjualan sayuran di rumah, kebanyakan berkeliling menggunakan sepeda motor dengan waktu tertentu seperti di pagi hari saja. Jadi jika sewaktu-waktu warga ada yang membutuhkan sayur mayur langsung bisa ke lapak Bu Sumirah. Tidak hanya sayuran  saja yang beliau jual ada juga kebutuhan sehari hari para ibu rumah tangga seperti  minyak, gula, mie instan, teh, dll.

Pendapatan beliau perhari kalau ditotal bisa sekitar Rp 200.000,00 perhari. Pendapatan kotor tersebut biasanya beliau sisihkan untuk berbagai keperluan misalnya  untuk kulakan dan angsuran GEMI. Rembug Madep Mantep memiliki jadwal rembug setiap hari Senin. Maka beliau setiap hari selalu menyisihkan hasil jualan untuk angsuran GEMI.

Bu Sumirah termasuk generasi awal anggota GEMI di Gunungkidul. Beliau juga menyampaikan bahwa dulu beliau yang mencarikan anggota untuk pembentukan kelompok rembug beliau. Pinjaman yang beliau terima diawal menjadi anggota gemi adalah sebesar Rp 500.000,00 dan sekarang sudah mencapai Rp 5.000.000,00. Biasanya setelah mendapat pinjaman dari GEMI tidak seluruhnya digunakan untuk kulakan sayur untuk dijual, ada yang dipakai untuk kebutuhan mendesak, contohnya untuk memperbaiki bagian rumah yang rusak.

Selama menjadi anggota GEMI, Bu Sumirah mengaku senang karena angsuran di GEMI tidak memberatkan. Selama 11 tahun menjadi anggota GEMI, beliau tidak pernah memiliki masalah angsuran seperti menunggak dan lain-lain. Bahkan selama itu beliau tidak pernah ditanggung renteng oleh anggota lain dalam rembugnya.

Fasilitator : Hardiyo

GEMI Sigap COVID-19

GEMI Sigap COVID-19

Apa itu COVID-19?

Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Penyakit ini menyerang pernafasan dengan gejala
demam, batuk kering, sakit tenggorokan, hingga sesak nafas. Covid-19 pertama kali diketahui berasal dari Wuhan,
China. Hingga sekarang, virus ini sudah menyebar lebih dari 200 negara dan menjangkiti lebih dari 638.146 orang.

Covid-19 juga sudah mencapai negara kita tercinta, Indonesia. Hingga hari ini (30/03) jumlah kasus mencapai
1.414kasus. Penyebaran virus ini sangat mudah. Bisa melalui droplet (berkas cairan ketika batuk, berbicara, bersin),
benda yang disentuh penderita, bersentuhan dengan penderita, bahkan bisa menyebar melalui udara (airborne).

Untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas, Koperasi Syariah GEMI memberikan himbauan dan melakukan
beberapa langkah. Continue reading →

Menyenangkan! Staff GEMI Berlatih Menjadi Fotografer Menggunakan HP

Menyenangkan! Staff GEMI Berlatih Menjadi Fotografer Menggunakan HP

Koperasi Syariah GEMI setiap bulan mengadakan Training Pengembangan Kapasitas dan Dedikasi (TEKAD) untuk seluruh staff GEMI. Hal ini dimaksudkan untuk menambah kualitas dan kapasitas staff. Setiap pertemuan, ada berbagai macam tema yang bisa menjadi pembelajaran.

TEKAD edisi Agustus 2019 yang diselenggarakan akhir bulan (30/08) ini, Pelatihan Fotografi menggunakan Handphone dipilih menjadi materi yang sangat menyenangkan. Banyaknya kegiatan lapangan yang dilakukan kantor cabang membuat tuntutan dokumentasi menjadi sangat penting. Namun bagaimana mengambil gambar/foto hanya dengan menggunakan handphone, tentunya membutuhkan ilmu dan keterampilan.

Bersama narsum Fotografer Ika Hilal, para staff mendapatkan ilmu untuk pengambilan gambar dengan baik. Peserta juga diwajibkan untuk praktek mengambil foto menggunakan ponsel masing-masing dan disetorkan untuk diberikan komentar.

Harapannya, setelah pelatihan ini seluruh staff bisa mendokumentasikan kegiatan Koperasi GEMI di lapangan dengan baik meskipun hanya menggunakan handphone saja.

 

(lz)

Pengajian dan Bazaar GEMI Cabang Bantul

Pengajian dan Bazaar GEMI Cabang Bantul

Bantul, gemi.co.id — Menjaga keharmonisan rumah tangga di kala ujian ekonomi mendera, merupakan salah satu tantangan dalam kehidupan rumah tangga. Faktor perekonomian masih menjadi salah satu penyebab terbesar perceraian. PHK, suami tidak bekerja, istri lebih besar pendapatannya, dan lain sebagainya.

Dengan maraknya kondisi ini, Koperasi GEMI sebagai koperasi yang 80% anggotanya adalah perempuan pengusaha mikro, mengadakan pengajian tentang keharmonisan rumah tangga pada 23 Agustus 2019 lalu. Bertempat di Kantor Cabang GEMI Bantul, pengajian yang diisi oleh Ustadzah Rochma Yulika (konsultan keluarga -red) ini berlangsung meriah.

Ustadzah Rochma menyampaikan bahwa keharmonisan rumah tangga harus diusahakan oleh semua pihak, baik suami, istri, dan anak sekalipun. Semuanya memiliki kewajiban menjaga keharmonisan rumah tangga. Sehingga masalah ekonomi yang mungkin akan terjadi bisa tetap  dihadapi dengan tenang.

Selain pengajian, GEMI juga mengadakan bazaar sembako murah dan juga baju pantas pakai. Sembako murah ini dijual perpaket seharga Rp 25.000,00 dan Rp 40.000,00. Sedangkan baju pantas pakai berkisar antara Rp 10.000,00- Rp 20.000,00.

Anggota GEMI sangat senang dengan adanya pengajian dan bazaar ini. Koperasi GEMI sebagai lembaga keuangan tidak hanya mengadakan kegiatan simpan pinjam saja, ada banyak kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas anggota GEMI.

(lz)

Bu Sayem, Penggendong Tenggok dari Gunungkidul

Bu Sayem, Penggendong Tenggok dari Gunungkidul

Bu Sayem, anggota GEMI Gunungkidul ini sehari-harinya berjualan sayur keliling. Bertempat tinggal di Dusun Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul, Bu Sayem sudah melakoni usaha ini selama 30 tahun.

Suami Bu Sayem adalah seorang petani dan peternak, sedangkan anak beliau bekerja di tempat lain.

Meski usianya tak lagi muda, Bu Sayem tetap bersemangat mencari rezeki dari berjualan sayur. Bermodalkan jalan kaki menggendong tenggok (bakul yang terbuat dari anyaman bambu -red), beliau menyusuri jalanan di dusun Sidorejo dan sekitarnya.

Dalam sehari, beliau bisa menghasilkan untung sekitar Rp 75.000,00. Beliau tidak setiap hari berjualan karena  pedagang sayur di sekitarnya sudah banyak. Terkadang Bu Sayem menjajakan makanan yang sudah matang seperti gendar, jadah, tempe tahu bacem, gorengan dan pecel. Beliau mengakui memang untung dari jualan keliling tidak begitu banyak, tetapi Bu Sayem tetap bersyukur. Karena meski pendapatannya cuma sedikit, “Alhamdulillah, satu keluarga bisa ikut makan dagangan yang saya buat tanpa harus jajan diluar,” kata Bu Sayem sambil tersenyum.

Bergabung dengan GEMI sejak tahun 2017 di Kelompok Rembug Anggrek Lancar, membuat Bu Sayem memiliki modal lebih untuk berjualan sayur. Di awal pembiayaan, beliau menerima Rp 1.000.000,00 dan meningkat hingga Rp 1.800.000,00 sampai sekarang. Bu Sayem senang menjadi anggota GEMI  karena angsurannya tidak begitu tinggi ataupun menyulitkan dibandingkan dengan lembaga keuangan yang lain. Selain itu, keuntungan menjadi anggota GEMI adalah bisa ikut Tabungan Hari Raya. Tabungan ini hanya boleh diambil menjelang hari raya, dan ini membuat Bu Sayem serta anggota yang lain senang karena bisa menabung untuk keperluan hari raya tanpa takut berkurang untuk keperluan harian.

Fasilitator : Eka lestari